Adv 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
MRO Updates :
MR Online Updates »
Bagikan kepada teman!

Jenis - jenis Tidur dan Efek Sampingnya


  وفي تذكرة الجلال السيوطي النوم في أول النهار عيلولة وهو الفقر وعند الضحى فيلولة وهو الفتور وحين الزوال قيلولة وهي الزيادة في العقل وبعد الزوال حيلولة أي يحيل بينه وبين الصلاة وفي آخر النهار غيلولة أي يورث الهلاك .



Disebutkan dalam kitab tadzkiroh buah karya al-jalal as-suyuthi bahwa:


1. Tidur di permulaan siang (pagi hari) disebut 'ailulah yaitu (menyebabkan) kefakiran. 


2. Tidur di waktu dhuha disebut failulah, (menyebabkan) kelemahan/lesu pada badan. 


3. Ketika tergelincir matahari (zawal) disebut qoilulah, dapat menambah (kecerdasan) akal. 


4. Tidur setelah zawal disebut chailulah, yakni dapat menghalangi antara orang itu dan sholat. 


5. Tidur di akhir siang (sore hari) disebut ghoilulah, dapat menyebabkan binasa.



 قال المناوي : اعلم أن كثرة النوم غير محمودة لكثر مفاسده الأخروية ، بل والدنيوية ، فإنه يورث الغفلة والشبهات وفساد المزاج الطبيعي والنفساني ويكثر البلغم والسوداء ويضعف المعدة وينتن الفم ويولد دون القرح ويضعف البصر والباه حتى لا يكون له داعية للجماع ، ويفسد الماء ويورث الأمراض المزمنة في الولد المتخلق من تلك النطفة حال تكوينه ، ويضعف الجسد .



Al-manawiy berkata:


Ketahuilah, sesungguhnya banyak tidur itu tidak terpuji, karena banyak menimbulkan keburukan ukhrowi bahkan duniawi.



Karena banyak tidur itu menyebabkan lupa, syubhat, rusaknya pembawaan tubuh dan jiwa, memperbanyak lendir, lemah semangat/murung, melemahkan lambung, membuat muluk berbau busuk, menimbulkan luka, melemahkan penglihatan, nafsu seksual sehingga tidak ada pendorong untuk bersenggama, merusak (kandungan) air (pada tubuh), menyembahkan penyakit lumpuh pada anak yang terbentuk dari air sperma itu ketika terbentuk, dan melemahkan raga.



 هذا في النوم في غير وقت العصر والصبح ، وأما فيهما فأعظم ضررا لأنه لا يمكن استقصاء مفاسده في العقل والنفس . ومنها أنه يورث ضعف الحال بحكم الخاصية وعدم الإيمان بالبعث والنشور



Hal ini untuk tidur di selain waktu ashar dan subuh, adapun tidur di waktu tersebut lebih besar bahayanya, karena tidak mungkin menjelaskan keburukan bagi akal dan jiwa.

Termasuk diantaranya adalah dapat melemahkan hal (keadaan jiwa) dengan hikmah-hikmah yang tertentu, dan menyebabkan tidak percaya (iman) dengan hari kebangkitan dan dikumpulkan di makhsyar. Wallohu a'lam




Dinukil dari kitab Tuhfatul Habib oleh PISS-KTB
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Cara Bersujud

Para ulama fiqih mendifinisikan shalat sebagai tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan itu selanjutnya dinamakan rukun dan pemenuhannya menjadi satu keharusan. Berarti, bila tidak dikerjakan mengakibatkan shalatnya batal. Atau disebut sunnah jika berfungsi sebagai pelengkap dan penyempurnaan saja. Sehingga, kalau ditinggalkan, tidak sampai berakibat membatalkan shalat.

Rukun shalat secara keseluruhan ada tujuh belas, yang merupakan satu kesatuan utuh, sehingga pelaksanaannya harus berkesinambungan. Akibatnya, bila ada salah satu saja dari rukun itu ditinggalkan atau dilaksanakan secara terpisah, seseorang belum dianggap melaksanakan shalat. Dalam bahasa ahli ushul fikih, belum bebas dari uhdatul wujub, atau belum bias mengugurkan at-ta’abbud.

Setiap rukun mempunyai aturan dan cara-cara tertentu. Mulai dari cara membaca fatihah, ruku’, sujud, I’tidal dan seterusnya semua itu berdasar pada cara shalat Rasulullah saw semasa hidup. Sebagaimana perintah beliau dalam sebuah hadits:

صلوا كما رأيتموني أصلي -رواه البخاري
Artinya: shalatlah kamu seperti yang kamu lihat saat aku mengerjakannya (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Cara dan aturan-aturan tersebut telah diterangkan oleh ulama dengan panjang lebar, melalui proses ijtihad secara serius, dalam karya mereka berupa kitab-kitab fiqih.

Dalam berijtihad mereka senantiasa berpedoman pada al-qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas serta metode-metode istinbath yang lain. Karena itu dengan berpedoman pada kitab-kitab fiqih, bukan berarti kita tidak atau kurang mengamalkan al-Qur’an dan hadits seperti anggapan minor sebagian kalangan tertentu.

Dengan demikian shalat yang dipraktikkan umat Islam, secara umum sama, karena berangkat dari sumber yang sama pula. Semua berdiri, membaca fatihah, ruku’ dan sbagainya. Tapi di balik kesamaan-kesamaan tersebut, ada perbedaan-perbedaan kecil yang tidak begitu prinsip . Jangan sampai terjadi, perbedaan kecil itu merusak ukhuwah islamiyah di kalangan muslimin.

Misalnya dalam hal sujud, para ulama sendiri terbagi dalam dua kelompok, antara yang mendahulukan tangan dan yang mengakhirkannya setelah meletakkan lutut. Keduanya memiliki dasar masing-masing. Kalau ditelusuri perbedaan pendapat tersebut berpangkal pada dua hadits yang termaktub dalam bulughul maram, karangan Ibnu hajar al-Asqalani.

Hadits pertama riwayat dari sahabat Abu Hurairoh ra yang menyatakan bahwasannya rasulullah saw bersabda;

إذا سجد أحدكم فلايبرك كمايبرك البعير وليضع يديه قبل ركبتيه - رواه أبوداود والترمذي والنسائي
Artinya: Jika salah satu dari kalian bersujud, janganlah menderum seperti unta menderum, letakkanlah kedua tangan sebelum lutut. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Dalam hadits tersebut jelas kita diperintahkan untuk mendahulukan tangan. Sebuah pengertian yang berlawanan dengan hadits kedua riwayat sahabat Wail bin Hajar ra yang mengatakan:

رأيت النبي صلى الله عليه وسلم إذا سجد وضع ركبتيه قبل يديه ركبتيه -رواه أبوداود والترمذي والنسائي وابن ماجه
Artinya: Saya melihat Rasulullah SAW ketika sujud meletakkan (menjatuhkan) lutut sebelum tangannya. (HR. abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)
 
Ketika ada dua hadits yang tampak bertentangan seperti itu, para ulama akan memilih mana yang lebih kuat; yang sahih didahulukan dari pada yang dhaif. Kalau kedudukannya sama, sebisa mungkin dikompromikan agar sejalan dan tidak saling bertentangan. 

Jika langkah  tersebut tidak mungkin dicapai, hadist yang terdahulu dirombak (dinasikh) oleh yang terakhir. Dengan catatan sejarah keduanya diketahui. 

Bila waktunya tidak jelas, sikap yang mereka ambil adalah al-waaf. Maksudnya kedua hadits tersebut tidak diamalkan, lalu beralih pada dalil lain. Solusi seperti itu diketemukan dalam kitab-kitab ushul fikih, seperti tashit Thuraqat, Irsayadul Fukhul dan al-Luma’.Yang menjadi permasalahan adalah para ulama sering berbeda menilai sebuah hadits. Hadits yang dianggap sahih oleh seorang ahli (muhadditsun) tertentu, pada saat yang sama kadang diklaim tidak sahih oleh ulama lain. Pada gilirannya, mereka cenderung berpendapat sesuai dengan hasil ijtihad masing-masing.

Pada kasus sujud, Imam Malik dan Imam Auzai memilih hadits yang pertama. Sedangkan madzhab Syafi’I dan Hanafi cenderung mengamalkan hadits kedua. Dalam kaitan itulah mengapa khiaf tidak terelakkan. Apalagi jika hadits hanya diketahui oleh satu pihak saja. 

Namun yang pasti, ulama terdahulu telah berupaya semaksimal mungkin mendekati setiap kebenaran. Yang benar memporel dua pahala yang salah memperoleh satu pahala. Dengan syarat mereka benar-benar mempunyai kompetensi untuk berijtihad. Dalam arti, melengkapi diri dengan berbagai disiplin keilmuan yang diperlukan untuk tugas mulia yang sangat berat itu. Sekarang kita tinggal pilih sesuai dengan kemnatapan dan keyakinan masing-masing. Kalangan pesantren yang akrab dengan kitab-kitab Imam syafi’I dalam hal sujud mungkin mendahulukan lutut. Tetapi kalangan yang lain bisa saja mendahulukan tangan.  



KH. Sahal Mahfudh, dalam Buku Solusi Problematika Umat.
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Orang-orang Pilihan

Abu Huraira r.a meriwayatkan salah satu wasiat Nabiyullah SAW, “Manusia itu ibarat tambang kebaikkan ataupun keburukkan sebagaimana tambang emas dan perak. Manusia-manusia pilihan di zaman jahiliyah juga akan menjadi manusia-manusia pilihan di zaman Islam”.

Arti dari sabda Rasulullah tersebut adalah jika engkau memang berbakat sebagai pejalan spiritual dan pencari kebenaran, maka datangnya Islam adalah kabar gembira bagimu. Engkau akan menyambutnya dengan suka cita dan mengikuti risalah-risalah yang dibawa oleh Nabi-Nya. Tapi jika hatimu cenderung pada kegelapan dan selalu menutup diri dari kebenaran, maka tiada beda antara zaman jahiliyah dan zaman Islam bagimu. Engkau akan tetap pada posisimu dan selalu setia pada kebodohanmu. Hatimu yang sekeras batu cenderung menolak apapun yang disampaikan oleh Rasul-Nya.

Orang-orang pilihan adalah mereka yang memahami benar bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara. Kesadaran itu akan menuntunya untuk selalu belajar mengenai kehidupan abadi yang hanya dapat diperoleh melalui ilmu-ilmu agama. Kesadaran tiu akan membawanya menuju pencerahan dalam perjalanan spitiualnya.

Manusia-manusia pilihan yang dimaksud Rasul SAW adalah mereka yang ketika Allah SWT menciptakan ruh-ruh di zaman azali telah mempunyai kecenderungan selalu menuju arah cahaya. Di alam materi, ruh-ruh tersebut menjadi manusia-manusia yang selalu mencari kebenaran-kebenaran sejati.  Allah ta’Ala menciptakan ruh-ruh dalam keadaan bergerombol-gerombol. Arwah-arwah dalam kelompok itu akan saling mengenal di dunia. Kelompok yang terpisah akan saling mengingkari dan tidak mengenal satu sama lain.

Ketahuilah bahwa berkumpulnya ruh-ruh dalam sebuah kelompok itu dalam konteks yang spiritual. Aku ilustrasikan sebagai contoh : Nabi Ibrahim a.s  pada mulanya hidup dengan ayahnya, tapi ketika jelas bahwa ayahnya adalah musuh Allah, Nabi Ibrahim segera melepas diri darinya. Gambaran itu menunjukkan bahwa ruh Nabi Ibrahim dan ayahnya pernah saling bertemu di zaman Allah belum menciptakan alam materi, tetapi ruh keduanya tidak berada dalam satu kumpulan yang sama.

Dapat engkau pastikan jika dirimu sekarang berkumpul dengan orang-orang sholeh sampai ajal menjemput, itu menunjukkan bahwa sejak masa pra keabadian ruhmu telah bersama dalam satu gerombolan dengan arwah-arwah orang yang sholeh. Jika demikian, maka sudah barang tentu ruhmu dan arwah-arwah orang yang sholeh itu berada dalam satu mata rantai dengan sekumpulan-sekumpulan yang lebih besar ruh-ruh yang telah dipilih Allah SWT untuk menyampaikan risalah-risalah-Nya, yakni ruh para Nabi dan Rasul.

Di dunia ini para wali dan orang-orang yang telah disingkapkan hijabnya oleh Allah dapat menelusuri hal-hal seperti itu. Imam Abu Hamid al Ghazali menceritakan bahwa pada suatu ketika beliau teringat pernah terlibat dalam perdebatan denga Nabi Musa a.s di zaman azali. Dalam pertemuannya di alam ruhani itu beliau ditertawakan dengan sayang oleh Nabi Musa sebab sang Nabi merasa kewalahan melayani argumen-argumen logika agama dari Imam al Ghazali.

Begitulah keadaan alam ruhani, disana ruh-ruh telah ditetapkan dan dikumpulkan menurut kecenderungan karakter dan kadar kebaikannya. Jika karakter salah satu ruh adalah hijau, di dunia ia akan cenderung bergerak ke arah warna hijau. Jika karakter ruhmu merah, di dunia engkau akan menyukai warna merah dan lebih senang berada dalam kumpulan warna merah. Orang-orang kafir akan menolak orang-orang yang beriman dan orang-orang beriman akan menyingkir dari orang-orang kafir.    



Ust. Yusron Mudzakkir
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Populer Sepekan

 
Managed by Remaja Musholla RAPI | Supported by Twitter @mushollarapi | Powered by Blogger