Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
MRO Updates :
MR Online Updates »
Bagikan kepada teman!

Pernikahan Mulia di Bulan Shafar

Sayyidah Fathimah menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib saat usianya menginjak usia delapan belas tahun. Sebelumnya, Abu Bakar Shiddiq dan Umar bin Khaththab pernah mengajukan lamaran kepada Rasulullah SAW, tetapi ditolak secara halus.

Saat Imam Ali meminang Sayyidah Fathimah, dalam hadits yang diriwayatkan lkrimah, Rasulullah SAW bertanya, "Apa yang engkau miliki untuk mahar?"

"Aku tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan sebagai mahar, ya Rasul," jawab Sayyidina Ali sambil tertunduk.

Sambil tersenyum Rasulullah bersabda, "Bukankah engkau mempunyai sebuah baju besi pemberianku?"


Sayyidina Ali menjawab, "Ya, aku punya."


Pahlawan muda Islam itu pun lalu memberikan baju besi kesayangannya sebagai mahar bagi Sayyidah Fathimah. Sayyidina Ali juga menjual seekor unta dan sebagian hartanya dengan nilai 480 dirham, untuk dibelikan wewangian dan barang kebutuhan rumah tangga.

Pernikahan Sayyidah Fathimah dan Sayyidina Ali dirayakan dengan sederhana. Jamuannya makanan dari gandum dan daging domba, sumbangan orang-orang Anshar. Pada malam pemikahan mereka, menurut Buraidah, Rasulullah SAW meminta bejana dan berwudhu dari bejana itu kemudian menuangkan airnya ke tubuh Sayyidina Ali.

Kemudian, beliau berkata, "Ya Allah, berkahilah mereka beserta keturunannya, dan limpahkanlah karuniaMu atas mereka."

Hari-hari seusai pernikahan dilalui keluarga muda itu dengan penuh kesederhanaan. Mereka tidur di atas kulit domba dengan bantal berisi jerami. Perabot rumah tangga yang dimiliki putri Rasulullah itu hanya alat penggiling gandum, bejana air, dan dua kantung kulit dari air.

Sayyidah Fathimah bahkan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangganya sendiri. Suatu hari Sayyidina Ali berkata kepada Sayyidah Fathimah, "Demi Allah, aku telah menimba air sampai dadaku sakit. Allah telah memberikan kepada ayahmu tawanan perang, pergi dan mintalah kepada beliau seorang pelayan."


Sayyidah Fathimah pun berkata, "Demi Allah, aku juga telah menumbuk gandum sampai tanganku lecet."

Kemudian, Sayyidah Fathimah berangkat me¬nemui Rasulullah. Namun, ketika sampai di hadapan ayahandanya, dia merasa segan mengemukakan maksudnya. Sayyidah Fathimah pun akhirnya pulang kembali dengan tangan hampa.


Setiba di rumah, Sayyidina Ali membujuk istrinya lagi untuk kembali menghadap Rasulullah. Sayyidah Fathimah enggan, kecuali jika sang suami mau menemaninya. Akhirnya, pasangan shalih itu menghadap Rasulullah SAW lagi dan mengutarakan maksudnya. Tetapi, Rasulullah SAW menolak permintaan mereka. Sayyidah Fathimah dan suaminya pulang dengan tangan hampa.


Pada malam harinya, saat keduanya sudah akan tidur, Rasulullah mendatangi mereka. Saat mereka akan bangkit, Rasulullah melarangnya. Beliau bersabda, 'Tetaplah di situ. Maukah kalian kuajari se¬suatu yang lebih baik dari yang kalian minta tadi siang?"


'Tentu saja," jawab keduanya bersamaan.

"Sesuatu itu adalah beberapa kalimat yang diajarkan Jibril kepadaku. Setiap selesai shalat, ucapkanlah sub-hanallah sepuluh kali, Alhamdulillah sepuluh kali, dan Allahu akbar sepuluh kali. Dan ketika kalian beristirahat di tempat tidur, ucapkanlah Sub-hanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali," sabda Baginda Nabi.

Demikianlah, rumah tangga yang berawal di bulan Shafar itu sangat berlimpah keberkahan, meski tak kaya harta. Dari pernikahan yang berlangsung selama sebelas tahun itu, lahir beberapa anak: Al-Hasan, Al-Husein, Muhassin (wafat masih kecil), Ummu Kultsum, dan Zainab. Dari keturunan merekalah, lahir para pembela dan penyebar agama Allah ke seluruh du¬nia, hingga saat ini. Sayyidah Fathimah wafat, enam bulan setelah ayahandanya berpulang. Semoga rahmat dan keridhaan Allah senantiasa menyertai mereka dan keturunan mereka. Amin.




Al Kisah
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Hari Baik dan Hari Buruk

"Hamba-hambaku akan menjadi iman dan kafir dengan-Ku, hamba yang mengatakan; kita dihujani karena anugrah Allah, maka ia beriman dengan-Ku dan kafir dengan bintang, dan hamba yang mengatakan; kita dihujani karena keadaan bintang tertentu, maka dia kafir dengan-Ku dan iman dengan bintang."


Dari dalil "Wahdaniyyah" ini bisa diketahui bahwa tidak ada sesuatu yang bisa "memberikan akibat" baik berupa api, pisau, makan terhadap pembakaran, pemotongan, atau rasa kenyang. Hanya Allah jualah yang menjadikan "terbakarnya" sesuatu ketika bersentuhan dengan api, menjadikan terpotongnya sesuatu ketika bersentuhan dengan pisau, menjadikan kenyang ketika makan atau memberikan kesegaran ketika minum.


Barang siapa punya anggapan bahwa api bisa membakar dengan tabiat panasnya, atau air bisa menyegarkan juga karena tabiatnya, Maka ia tergolong kufur dengan berdasarkan kesepakatan ulama (ijma).


Dan barang siapa punya anggapan. Api tersebut bisa membakar dengan kekuatan yang dititipkan Allah padanya, maka ia termasuk orang bodoh dan fasiq. Karena orang seperti ini jelas-jelas tidak tahu akan hakikatnya "Wahdaniyyah".


Kalau meyakini kejadian baik dan buruk akibat pengaruh hari-hari tersebut bisa dihukumi kufur, tapi kalau hanya terkait secara 'ady (kejadian umum) serta dimungkinkan kedua hal tersebut tidak menimbulkan keterkaitan sama sekali maka Boleh.



(مسألة) إذا سأل رجل اخر هل ليلة كذا او يوم كذا يصلح للعقد او النقلة فلا يحتاج إلي جواب لان الشارع نهي عن اعتقاد ذلك وزجر عنه زجرا بليغا فلا عبرة بمن يفعله. وذكر ابن الفركاح عن الشافعي انه ان كان المنجم يقول ويعتقد انه لايؤثر الا الله ولكن أجري الله العادة بأنه يقع كذا عند كذا . والمؤثر هو الله عز وجل. فهذه عندي لابأس فيه وحيث جاء الذم يحمل علي من يعتقد تأثير النجوم وغيرها من المخلوقات . وافتي الزملكاني بالتحريم مطلقا. اهـ



“Apabila seseorang bertanya pada orang lain, apakah malam ini baik untuk di gunakan akad nikah atau pindah rumah maka pertanyaan seperti tidak perlu dijawab, karena nabi pembawa syariat melarang meyakini hal semacam itu dan mencegahnya dengan pencegahan yang sempurna maka tidak ada pertimbangan lagi bagi orang yang masih suka mengerjakannya, Imam Ibnu Farkah menuturkan dengan menyadur pendapat Imam syafii : Bila ahli nujum tersebut meyakini bahwa yang menjadikan segala sesuatu hanya Allah hanya saja Allah menjadikan sebab akibat dalam setiap kebiasaan maka keyakinan semacam ini tidak apa-apa yang bermasalah dan tercela adalah bila seseorang berkeyakinan bahwa bintang-bintang dan makhluk lain adalah yang mempengaruhi akan terjadinya sesuatu itu sendiri (bukan Allah)”. (Ghayat al Talkhis al Murad Hal 206).


تحفة المريد ص : 58

فمن اعتقد أن الأسباب العادية كالنار والسكين والأكل والشرب تؤثر فى مسبباتها الحرق والقطع والشبع والرى بطبعها وذاتها فهو كافر بالإجماع أو بقوة خلقها الله فيها ففى كفره قولان والأصح أنه ليس بكافر بل فاسق مبتدع ومثل القائلين بذلك المعتزلة القائلون بأن العبد يخلق أفعال نفسه الإختيارية بقدرة خلقها الله فيه فالأصح عدم كفرهم ومن اعتقد المؤثر هو الله لكن جعل بين الأسباب ومسبباتها تلازما عقليا بحيث لا يصح تخلفها فهو جاهل وربما جره ذلك إلى الكفر فإنه قد ينكر معجزات الأنبياء لكونها على خلاف العادة ومن اعتقد أن المؤثر هو الله وجعل بين الأسباب والمسببات تلازما عادي بحيث يصح تخلفها فهو المؤمن الناجى إن شاء الله إهـ


“Barangsiapa berkeyakinan segala sesuatu terkait dan tergantung pada sebab dan akibat seperti api menyebabkan membakar, pisau menyebabkan memotong, makanan menyebabkan kenyang, minuman menyebabkan segar dan lain sebagainya dengan sendirinya (tanpa ikut campur "tangan" Allah) hukumnya kafir dengan kesepakatan para ulama, 

atau berkeyakinan terjadi sebab kekuatan (kelebihan) yang diberikan Allah di dalamnya menurut pendapat yang paling shahih tidak sampai kufur tapi fasiq dan ahli bid'ah seperti pendapat kaum mu’tazilah yang berkeyakinan bahwa seorang hamba adalah pelaku perbuatannya sendiri dengan sifat kemampuan yang diberikan Allah pada dirirnya, 

atau berkeyakinan yang menjadikan hanya Allah hanya saja segala sesuatu terkait sebab akibatnya secara rasio maka dihukumi orang bodoh,  

atau berkeyakinan yang menjadikan hanya Allah hanya saja segala sesuatu terkait sebab akibatnya secara kebiasaan maka dihukumi orang mukmin yang selamat, Insya Allah". (Tuhfah alMuriid 58).



Ust. Masaji Antoro, pengasuh Pustaka Ilmu Sunniyah Salafiyah (PISS-KTB)
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Doa Menghapal Qur'an dan Menolak Lupa


Ibnu Abbas berkata: ‘Ali bin Abi Tholib berkata: wahai Rosulullah SAW, Al-qur’an hilang dari dadaku(hafalanku). 

Maka Rasulullah SAW bersabda: “aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat, semoga dengan kalimat ini Allah memberikan manfa’at kpadamu dan kepada orang yang kau ajarkan:

Sholatlah pada malam jum’at pada sepertiga malam terakhir


Jika tidak mampu maka pertengahan malam.  

Jika tak mampu maka pada awal malam. 

Sholatlah 4 roka’at. Roka’at pertama membaca surah Yaasiin, roka’at kedua membaca suroh Ad-Dukhon, roka’at ke tiga membaca Haamiim As-Sajadah, roka’at ke empat mmbaca Al-Mulk.


Setelah kau selesai membaca Tasyahud, Pujilah Allah dan baguskanlah Sanjungan Kepada-Nya dan bersholawat kepadaku dan kepada para Nabi dan mintakan ampun untuk kaum mu’minin dan saudaramu yang mendahuluimu dengan iman, lalu ucapkan:



اللهم ارحمني بترك المعاصي ابدا ما ابقيتني و ارحمني من ان اتكلف ما لا يعنيني وارزقني حسن النظر فيما يرضيك عني اللهم بديع السموات و الارض ذا الجلال والاكرام والعزة التي لا ترام اسألك يا الله يارحمن بجلالك و نور وجهك ان تلزم قلبي حب كتابك كما علمتني وارزقني ان اتلوه علي النحو الذي يرضيك عني و اسألك ان تنور بالكتاب بصري وتطلق به لساني وتفرج به عن قلبي و تشرح به صدري و تستعمل به بدني و تقويني علي ذلك و تعينني عليه فانه لا يعينني علي الخير غيرك و لا موفق الا انت



Lakukanlah amalan ini 3x atau 5x atau 7x maka kau akan bisa menghafalnya dengan idzin Allah.


Lalu sayyidina Ali datang kpada Nabi SAW setelah melakukannya 7x, lalu berkata:” ya Rosulallah SAW, demi Allah
, dulu aku membaca 4 ayat atau seumpamanya namun ketika aku baca hilanglah 4 ayat itu, tetapi sekarang aku mempelajari 40 ayat atau seumpamanya maka ketika aku membacanya seolah-olah Al-Qur’an ada di hadapanku. 


Dan dulu aku mendengar suatu hadits tetapi ketika aku ulang ia hilang Dan aku sekarang mendengar beberapa hadits dan ketika aku mengatakannya kepada orang lain aku tidak melewatinya 1 huruf pun” . 


Maka Nabi SAW bersabda: “Demi Allah, ajarkanlah wahai Abal Hasan, ajarkanlah wahai Abal Hasan” (turmudzi: ini hadits hasan ghorib)

 


Sumber: Hadist Riwayat Imam Turmudzi (Hadist Hasan Gharib) Diambil dari kitab Fadloilil Qur’an yang ada di kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 4
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Populer Sepekan

 
Managed by Remaja Musholla RAPI | Supported by Twitter @mushollarapi | Powered by Blogger