Adv 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
MRO Updates :
MR Online Updates »
Bagikan kepada teman!

Pentingnya Wasilah

Al Allamah Al Musnid Habib Umar Bin Hafidz ketika lawatannya ke Inggris menuturkan , ada seorang yang hidup di masa Qutb Rabbani Syeich Abdul Qadir Al Jilany. Ketika orang itu meninggal dunia dan di kuburkan, orang-orang yang berada di sekitar pekuburan mendengar jeritan, lolongan orang itu dari dalam kubur.



Para sahabat (murid-murid) syeich Abdul Qadir Al Jilany bercerita kepadanya, dan segera syeich Abdul Qadir Al-Jilany menghampiri kubur tersebut. Masyarakat menyaksikan dan memohon kepada beliau agar memohon kepada Allah subhanallahu wata`ala agar hukumannya di angkat.



Kemudian Syeich Abdul Qadir Al Jilany bertanya kepada para sahabat-sahabatnya,“Apakah ia salah satu dari sahabatku (muridku)?



Mereka menjawab, “Bukan wahai syeikh”……



Lalu beliau bertanya kembali, “Pernahkah kalian melihatnya hadir pada salah satu majelisku?



Mereka menjawab : Orang itu tidak pernah menghadiri majelismu.



Asy-Syeikh Abdul Qadir bertanya lagi, “Pernahkah ia masuk ke salah satu masjid dengan tujuan untuk mendengarkan ceramahku, atau shalat di belakangku?



Mereka menjawab, “Tidak pernah , ya syeikh..!!!!!



Lalu Asy-Syeikh Abdul Qadir bertanya lagi, Pernahkah aku melihatnya?



Mereka menjawab, “Tidak pernah, ya syeikh!!!



Lalu Asy Syeikh Abdul qadir bertanya lagi,“Apakah ia pernah melihatku?



Mereka menjawab, “Tidak ya Syeikh.!!



Lalu salah seorang dari mereka berkata, Namun wahai syeikh, aku pernah melihatnya melintas di suatu jalan setelah engkau dan para sahabatmu baru saja selesai dari majelis, dan ia melihat jejak jalanmu (di masa itu Asy Syeikh Abdul qadir Al Jilany bila berjalan dengan rombongannya , dengan mengendarai kuda, hingga menimbulkan debu-debu yang mengepul di udara, orang akan segera tahu bahwa itu konvoi Asy Syeikh Abdul qadir Al Jilany yang baru saja lewat)



Lalu Asy-Syeikh Abdul Qadir Al Jilany menengadahkan tangannya kepada Allah subhanallahu wata`ala seraya berdo`a,“Ya Allah, orang ini adalah orang yang pernah melihat debu jejak jalan kami selesai majelis, jika Engkau mencintai kami Ya Allah, kami memohon kepada-Mu berkat kecintaan-Mu kepada kami untuk mengangkat hukuman serta siksaan pada hamba ini.



Seketika itu juga, jeritan dari dalam kubur terhenti. Subhanallah



Baru melihat debunya saja, seorang Wali Allah qutb rabbani As-syeikh Abdul qadir al Jilany memberikan syafaat di alam kubur, bagaimana dengan para sahabatnya (muridnya) yang siang dan malam menghadiri majelis-majelis beliau, mengenal dan mencintainya.



Dari debu inilah Al qutb Rabbani Asy-Syeikh Abdul Qadir Al Jilany memohonkan ampun kepada orang tersebut. Oleh karena itu semasa hidupnya seorang muslim selayaknya mencintai para shalihin, para wali Allah. Sebab merekalah perantara antara kita dengan Allah, Para Wali Allah di cintai di langit dan di bumi sebagaimana Allah berfirman di dalam hadis qudsi riwayat Imam bukhari,



Jika Allah Ta`ala cinta kepada hamba-Nya, maka Allah akan berkata kepada malaikat Jibril yang merupakan pemimpin dari para malaikat di tempat tertinggi,“Wahai Jibril , Aku mencintai hamba itu, maka umumkanlah kepada semua penduduk langit untuk mencintai hamba tersebut. Lalu malaikat Jibril as mencintai hamba tersebut karena Allah Ta`ala dan mengumumkannya, sehingga seluruh para malaikat ikut mencintainya.


Wallahu`alam.


Moch. Choiruddin 
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Penggusuran dan Ganti Rugi (2)

Para Imam bersepakat, bahwa jual beli itu sah jika dilakukan oleh orang yang sudah dewasa, bebas memilih (tidak terpaksa) dan bebas mengelola hartanya. Sedangkan untuk tindakan pemerintah yang membeli tanah rakyat harus sesuai dengan harga yang pantas atau memadai, dan itu semua dilakukan demi kepentingan umum.
 Dalam kitab Al Asybah wan Nadhair, hlm. 83, dijelaskan:
إذا كا ن فعل الا مام مبنيّا على المصلحة فيما يتعلّق بالا مو ر العا مّة لم ينفّذ امره شرعا إلاّ إذا وافقه فإن خالفه لم ينفّذ. ولهاذا قال الا مام ابو يوسف في كتاب الخراج من باب إحيا ء الموات: وليس للإ مام أن يخرج شيئا من يد أحد إلاّ بحقّ ثا بت معروف.

Jika tindakan imam itu didasarkan kepada kepentingan umum, maka secara syar’i perintahnya tidak boleh dilaksanakan kecuali sesuai dengan kepentingan umum tersebut. Dan jika bertentangan, maka tidak boleh dilaksanakan. 
Oleh karenanya, Imam Abu Yusuf dalam Kitab Al Kharraj min Babi Ihyail Mawat menyatakan, imam tidak boleh mengeluarkan apapun dari tangan siapapun kecuali dengan hak yang (berkekuatan hukum) tetap dan ma’ruf.
Akan tetapi, dalam buku Ahkamul Fuqaha, seperti yang dikutip dari kitab Al Ahkamus Sulthaniyyah li Ibni Najim, hlm. 124 diceritakan bahwa dulu ketika Umar r.a. diangkat sebagai khalifah dan jumlah penduduk semakin banyak, beliau memperluas masjid dengan membeli rumah dan dirobohkannya.
Kemudian beliau menambahkan perluasannya dengan dengan merobohkan (bangunan) penduduk yang beraa di sekitar masjid yang enggan untuk menjualnya. Umar r.a. kemudian memberikan harga tertentu sehingga mereka mau menerimanya. Hal ini juga terjadi di masa kekhalifahan shahabat Utsman bin Affan r.a.Dari peristiwa tersebut, Ibnu Subkiy dalam kitabnya Al Asybah wan Nadhair li Ibni Subkiy, hlm. 116, menjelaskan bahwa:
ولعلّ مراده بنقل الاتّفاق أن عمر اشترى الدّورمن أصحا بها في وسع المسجد وكذلك عثمان وكان الصّحابة في زما نها متوافرين ولم ينقل إنكار ذلك. (الإشباه والنّظائرلإ بن السّبكى 1/ 116, تحت جدول لمحقّقة )

Barangkali yang dimaksud sesuai dengan pemindahan kesepakatan adalah bahwa Umar membeli rumah dari pemiliknya untuk memperluas masjid. Demikian halnya yang dilakukan oleh Utsman. Para shahabat pada masa itu masih melimpah (di Madinah), namun tidak memberi informasi adanya pengingkaran mereka.
Kemudian dalam buku Ahkamul Fuqaha yang mengutip dari kitab Mughnil Muhtaj juz II, hlm. 7, dijelaskan bahwa, “adapun pemaksaan dengan (alasan) yang benar, adalah sah. Melaksanakan kerelaan syara’ (kebenaran) itu kedudukannya sama dengan krelaan (pemilik)nya,” (Lajnah Ta’lif Wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur, 2004: 553). Pendapat ini diperkuat dengan pendapat atau ketetapan yang terdapat dalam kitab Hasiyah Al Dasuqiy ‘alasy Syarhil Kabir juz III, hlm. 6 yang berbunyi:
اي وامّا لو أجبر على البيع جبرا حلالا كان البيع لازما كجره على بيع الدّار لتوسّع المسجد اوالطّريق او المقبرة. (حاثية الدّسوق على الشّر ح الكبير: 3/6)

Seandainya seseorang dipaksa untuk menjual (demi tujuan) yang baik dan halal, maka penjualannya sah, seperti dipaksa untuk menjual rumah untuk memperluas masjid, jalan umum atau kuburan.Sementara itu, sebagai bentuk kehati-hatian, Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin pada juz awal menjelaskan:
القسم الاوّل المعاصى وهي لا تتغيّر عن موضعها بالنّيّة … إلى ان قال: وبيني مدرسة او مسجدا او رباطا بمال حرام قصد الخير فهذ كلّه جهل والنّيّة لا تؤثّر في إخراجه عن كونه ظلما وعدوانا و معصيّة (إحيا علوم الدّين الجزء الاوّل)

Bagian pertama adalah maksiat. Dan maksiat itu tidak akan berubah dari posisinya (sebagai hal yang diharamkan) dengan niat kebajikan. 

Jika seseorang membangun sekolah, masjid dan pondokan dengan uang haram, ia bermaksud (dengan pembangunan tersebut) untuk melakukan kebajikan, maka semuanya itu merupakan kebodohan dan niatnya itu tidak akan berpengaruh untuk mengeluarkannya dari posisinya sebagai tindakan yang dhalim, aniaya dan maksiat.

Pendapat Imam Ghazali ini diperkuat oleh adanya pendapat yang dikutip dari kitab kitab I’anatuth Thalibin juz III, hlm.9 dalam buku ahkamul Fuqaha, yang artinya, ”seandainya seseorang mengambil sesuatu yang diduga halal dari orang lain dengan cara yang diperbolehklan, maka secara batin merupakan sesuatu yang haram. Jika secara lahir tidak nampak baik, seperti yang lacur dari hasil pengkhianatan, maka kelak di akhirat akan dituntut kembali. Sedangkan di dunia, ia tidak akan dituntut sama sekali karena diambil dengan cara yang diperbolehkan. Wallohu a'lam.



https://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/912539132102229/ oleh Ust. Ghufron
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Penggusuran dan Ganti Rugi (1)

Akhir-akhir ini Indonesia gencar-gencarnya membangun infrastuktur transportasi baik darat maupun laut.  Lebih-lebih pulau Jawa yang rencananya akan dibangun tol dari Banten–Surabaya, dengan dalih disamping untuk mengurangi kemacetan dan mempercepat akses ekonomi. Tapi pada kenyataannya proyek tersebut tidak luput dari beberapa masalah, seperti yang terjadi di sepanjang tol Semarang–Solo yang sudah aktif. Akibat dari pembangunan tol tersebut bangunan, tanah milik warga, masjid, perumahan, dan lain-lain harus terpaksa digusur demi kepentingan pembangunan, akan tetapi warga tetap mendapatkan ganti rugi.

Menurut madzhab Hanbali masjid digusur untuk dijadikan jalan raya/pelebaran jalan diperbolehkan jika hal tersebut berdasarkan kemaslahatan dan dilakukan oleh pemerintah.
الإنصاف الجزء 7 صحـ : 102 مكتبة دار إحياء التراث العربي (حنبلي )اعْلَمْ أَنَّ الْوَقْفَ لاَ يَخْلُوْ إِمَّا أَنْ تَتَعَطَّلَ مَنَافِعُهُ أَوْ لاَ فَإِنْ لَمْ تَتَعَطَّلْ مَنَافِعُهُ لَمْ يَجُزْ بَيْعُهُ وَلاَ الْمُنَاقَلَةُ بِهِ مُطْلَقًا نَصَّ عَلَيْهِ فِيْ رِوَايَةِ عَلِيِّ بْنِ سَعِيْدٍ قَالَ لاَ يَسْتَبْدِلُ بِهِ وَلاَ يَبِيْعُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ بِحَالٍ لاَ يُنْتَفَعُ بِهِ وَنَقَلَ أَبُوْ طَالِبٍ لاَ يُغَيَّرُ عَنْ حَالِهِ وَلاَ يُبَاعُ إِلاَّ أَنْ لاَ يُنْتَفَعَ مِنْهُ بِشَيْءٍ وَعَلَيْهِ اْلأَصْحَابُ وَجَوَّزَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّيْنِ رَحِمَهُ اللَّهُ ذَلِكَ لِمَصْلَحَةٍ وَقَالَ هُوَ قِيَاسُ الْهَدْيِ وَذَكَرَهُ وَجْهًا فِي الْمُنَاقَلَةِ وَأَوْمَأَ إِلَيْهِ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ وَنَقَلَ صَالِحٌ يَجُوْزُ نَقْلُ الْمَسْجِدِ لِمَصْلَحَةِ النَّاسِ وَهُوَ مِنَ الْمُفْرَدَاتِ وَاخْتَارَهُ صَاحِبُ الْفَائِقِ وَحَكَمَ بِهِ نَائِبًا عَنِ الْقَاضِيْ جَمَالِ الدِّينِ الْمُسْلاَتِيِّ فَعَارَضَهُ الْقَاضِيْ جَمَالُ الْمِرْدَاوِيُّ صَاحِبُ اْلانْتِصَارِ وَقَالَ حُكْمُهُ بَاطِلٌ عَلَى قَوَاعِدِ الْمَذْهَبِ وَصَنَّفَ فِيْ ذَلِكَ مُصَنَّفًا رَدَّ فِيهِ عَلَى الْحَاكِمِ سَمَّاهُ " الْوَاضِحُ الْجَلِيُّ فِي نَقْضِ حُكْمِ ابْنِ قَاضِيْ الْجَبَلِ الْحَنْبَلِيِّ " وَوَافَقَهُ صَاحِبُ الْفُرُوْعِ عَلَى ذَلِكَ وَصَنَّفَ صَاحِبُ الْفَائِقِ مُصَنَّفًا فِيْ جَوَازِ الْمُنَاقَلَةِ لِلْمَصْلَحَةِ سَمَّاهُ " الْمُنَاقَلَةُ بِاْلأَوْقَافِ وَمَا فِيْ ذَلِكَ مِنَ النِّزَاعِ وَالْخِلاَفِ " وَأَجَادَ فِيهِ وَوَافَقَهُ عَلَى جَوَازِهَا الشَّيْخُ بُرْهَانُ الدِّينِ بْنُ الْقَيِّمِ وَالشَّيْخُ عِزُّ الدِّينِ حَمْزَةُ بْنُ شَيْخِ السَّلاَمِيَّةِ اهـ 

الفروع لابن مفلح الجزء 6 صحـ : 623 مكتبة عالم الكتب ( حنبلي )وَذَكَرَهُ وَجْهًا فِي الْمُنَاقَلَةِ وَأَوْمَأَ إِلَيْهِ أَحْمَدُ وَنَقَلَ صَالِحٌ نَقْلَ الْمَسْجِدِ لَمَنْفَعَةٍ لِلنَّاسِ وَنَصُّهُ تَجْدِيْدُ بِنَائِهِ لِمَصْلَحَتِهِ وَعَنْهُ بِرِضَى جِيرَانِهِ وَعَنْهُ يَجُوزُ شِرَاءُ دُوْرِ مَكَّةَ لِمَصْلَحَةٍ عَامَّةٍ فَيُتَوَجَّهُ هُنَا مِثْلُهُ قَالَ شَيْخُنَا جَوَّزَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ تَغْيِيرَ صُوْرَتِهِ لِمَصْلَحَةٍ كَجَعْلِ الدُّوْرِ حَوَانِيْتَ وَالْحُكُوْرَةَ الْمَشْهُوْرَةَ وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ بِنَاءٍ بِبِنَاءٍ وَعَرْصَةٍ بِعَرْصَةٍ وَقَالَ فِيمَنْ وَقَفَ كُرُوْمًا عَلَى الْفُقَرَاءِ يَحْصُلُ عَلَى جِيرَانِهَا بِهِ ضَرَرٌ يُعَوِّضُ عَنْهُ بِمَا لاَ ضَرَرَ فِيهِ عَلَى الْجِيرَانِ وَيَعُودُ اْلأَوَّلُ مِلْكًا وَالثَّانِيْ وَقْفًا اهـ

مطالب أولي النهى في شرح غاية المنتهى الجزء 4 صحـ : مكتبة الإسلامي ( حنبلي )وَقَالَ يَجِبُ بَيْعُ الْوَقْفِ مَعَ الْحَاجَةِ بِالْمِثْلِ وَبِلاَ حَاجَةٍ يَجُوزُ بِخَيْرٍ مِنْهُ لِلْمَصْلَحَةِ وَلاَ يَجُوزُ بِمِثْلِهِ لِفَوَاتِ التَّغْيِيرِ بِلاَ حَاجَةٍ وَذَكَرَهُ وَجْهًا فِي الْمُنَاقَلَةِ وَأَوْمَأَ إلَيْهِ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ وَقَالَ شِهَابُ الدِّينِ بْنُ قُدَامَةَ فِي كِتَابِهِ الْمُنَاقَلَةِ فِي اْلأَوْقَافِ وَاقِعَةُ نَقْلِ مَسْجِدِ الْكُوفَةِ وَجَعْلِ بَيْتِ الْمَالِ فِي قِبْلَتِهِ وَجَعْلِ مَوْضِعِ الْمَسْجِدِ سُوقًا لِلتَّمَّارِينَ اشْتَهَرَتْ بِالْحِجَازِ وَالْعِرَاقِ وَالصَّحَابَةُ مُتَوَافِرُونَ وَلَمْ يُنْقَلْ إِنْكَارُهَا وَلاَ اْلاعْتِرَاضُ فِيهَا مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ بَلْ عُمَرُ هُوَ الْخَلِيفَةُ اْلآمِرُ وَابْنُ مَسْعُودٍ هُوَ الْمَأْمُورُ النَّاقِلُ فَدَلَّ هَذَا عَلَى مَسَاغِ الْقِصَّةِ وَاْلإِقْرَارِ عَلَيْهَا وَالرِّضَى بِمُوجَبِهَا وَهَذِهِ حَقِيقَةُ اْلاسْتِبْدَالِ وَالْمُنَاقَلَةِ وَهَذَا كَمَا أَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى مَسَاغِ بَيْعِ الْوَقْفِ عِنْدَ تَعَطُّلِ نَفْعِهِ فَهُوَ دَلِيلٌ أَيْضًا عَلَى جَوَازِ اْلاسْتِدْلاَلِ عِنْدَ رُجْحَانِ الْمُبَادَلَةِ وَِلأَنَّ هَذَا الْمَسْجِدَ لَمْ يَكُنْ مُتَعَطِّلاً وَإِنَّمَا ظَهَرَتِ الْمَصْلَحَةُ فِيْ نَقْلِهِ لِحِرَاسَةِ بَيْتِ الْمَالِ الَّذِيْ جُعِلَ فِيْ قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ الثَّانِيْ انْتَهَى .

Pembebasan tanah dengan harga yang tidak memadai dan tidak dengan kesepakatan kedua belah pihak, tergolong perbuatan zalim karena termasuk bai’ul mukrah dan hukumnya haram serta tidak sah. Apabila pembebasan tanah tersebut dilakukan oleh pemerintah untuk kepentingan umum yang dibenarkan menurut sayara’, dengan harga yang memadai, maka hukumnya boleh sekalipun tanpa kesepakatan.
Kemudian dijelaskan dalam buku Ahkamul Fuqaha yang mengutip dari kitab Bujairimi ‘alal minhaj dalam juz II hlm. 174 berbunyi yang artinya, tidak sah akad transaksi yang dilakukan oleh seseorang yang dipaksakan dalam hartanya tanpa hak, karena tidak adanya kerelaan.



https://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/912539132102229/ oleh Ust. Ghufron
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Populer Sepekan

Tahukah Anda



Barangsiapa mengucapkan Sayyidul Istighfar pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia termasuk penghuni surga.

Dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka dia termasuk penghuni surga.

للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

 
Managed by Remaja Musholla RAPI | Supported by Twitter @mushollarapi | Powered by Blogger