Adv 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
MRO Updates :
MR Online Updates »
Bagikan kepada teman!

Malaikat Yang Menjelma Menjadi Manusia

Para malaikat memiliki kemampuan untuk menjelma menjadi manusia. Mereka pernah menemui Nabi Ibrahim AS sebagai tamu yang terhormat. Kemudian Ibrahim AS menyuguhi hidangan sapi besar kepada mereka. Ibrahim tidak menyadari bahwa tamu yang datang ke­padanya adalah para malaikat, sampai mereka sendiri yang memberitahukan hakikat mereka kepada Ibrahim.

Allah SWT berfirman, "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malai­kat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu meng­ucapkan 'Salam sejahtera', Ibrahim menjawab, 'Salam sejahtera, (kalian) adalah orang-orang yang tidak dikenal.'

Maka, ia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian di­bawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata, 'Silakan ma­kan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka.

Mereka berkata, 'Jangan takut.' Dan mereka memberi kabar gembira kepa­danya dengan kelahirqn seorang anak yang alim (Ishaq). (QS Adz-Dzariyat: 24­28)."

Malaikat juga pernah datang kepada Nabi Luth AS, dengan rupa seorang pemuda yang tampan. Allah SWT berfirman, "Tatkala (para malaikat) utusan-utusan Kami datang kepada Luth, dia merasa resah dan gelisah karena kedatangan mereka. Dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.'

Kemudian kaumnya datang kepada­nya dengan bergegas. Sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan­perbuatan yang keji.

Luth berkata, 'Wahai kaumku, inilah putri-putriku. Mereka lebih suci bagi ka­lian. Bertaqwalah kepada Allah, dan ja­ngan kalian mencemarkan (nama)-ku ter­hadap tamuku ini. Tidak adakah di antara kalian yang berakal?'." (QS Hud: 77-78).

Allah SWT juga mengutus Jibril Al­ Amin kepada Maryam dengan rupa seorang laki-laki yang sempurna. Jibril menyampaikan kabar gembira kepada Maryam bahwa Allah telah memilihnya dan memilih putranya sebagai ora,qg pilihan. Allah SWT berfirman, "Maka, ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya. Maka, ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna." (Maryam: 17).

Jibril AS juga sering menemui Ra­sulullah SAW dan menjelma dalam ben­tuk seorang laki-laki. Imam Bukhari me­riwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Kadangkala satu malaikat datang ke­padaku dan menjelma menjadi seorang laki-laki. la berbicara denganku dan aku sadar akan ucapannya."

Jibril AS juga pernah menemui Ra­sulullah SAW saat beliau SAW bersama-­sama dengan para sahabatnya. Sebuah hadits yang terkenal diriwayatkan oleh Sayyidina Umar bin Khaththab RA tentang sosok yang datang kepada Ra­sulullah SAW dan bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan, serta had Kiamat dan tanda-tandanya. Kemudian sosok tersebut pergi.

Setelah itu Rasulullah SAW ber­sabda, "Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya tadi?"

Umar RA menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."

Kemudian Rasulullah SAW menje­laskan, "Sesungguhnya Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan aga­ma kepada kalian."

Mereka, para malaikat, juga bisa ber­bicara dengan manusia lainnya di dunia, seperti dalam firman Allah, "Ingatlah ketika malaikat berkata, `Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan­mu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya. Namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di du­nia dan di akhirat, dan ia termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)'." (QS Ali Imran: 45).

Mereka juga berbicara dengan ma­nusia di akhirat, seperti ditegaskan da­lam firman-Nya, "Yaitu surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama­sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak-cucunya, sedang malaikat-malai­kat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu sambil mengucapkan, 'Salamun 'alaikum bima shabartum.' (Salam sejahtera atas kalian terhadap apa yang kalian telah bersabar pada­nya). Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (QS Ar-Ra'd: 24).


Habib Sholeh Bin Ahmad Bin Salin Al Idrus
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Sayap - Sayap Malaikat

Beriman kepada malaikat adalah salah satu tema besar keimanan dan inti aki­dah seorang muslim. Iman kepada me­reka artinya mempercayai mereka ber­ikut nama-nama, tugas-tugas, dan sifat­-sifat mereka. Rasulullah SAW, saat di­tanya makna iman, menjawab, "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat­Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, dan beriman kepada qadha dan qadar, yang baik atau yang buruk."

Sementara itu Imam Ar-Razi menje­laskan, iman kepada malaikat dapat di­wujudkan dengan empat hal: 

Pertama, iman kepada wujud mereka sambil mengkaji mereka hanyalah ruh, memiliki jasad, atau memiliki ruh dan jasad. 
Kedua, meyakini bahwa mereka suci dan bebas dari kesalahan. 
Ketiga, meya­kini bahwa mereka adalah perantara antara Allah dan manusia. 
Dan keempat, meyakini bahwa kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para nabi melalui perantaraan mereka.

Malaikat adalah makhluk yang Allah ciptakan dari cahaya. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim, Nabi SAW bersabda, "Para malaikat dicipta­kan dari cahaya, sementara jin dari api yang sangat panas. Dan manusia dicip­takan dari sesuatu yang telah disam­paikan kepada kalian."

Para malaikat tidak beranak dan ber­keturunan, karena mereka tidak memiliki jenis kelamin laki-laki atau perempuan seperti manusia. Setiap malaikat dicip­takan sebagai makhluk yang terpisah dan berdiri sendiri. Mereka tidak memiliki ayah dan anak.

Keterangan tentang penciptaan ma­laikat dan fase-fasenya tidak diketahui secara pasti karena tak satu pun nash syari'at yang menjelaskannya secara terperinci.

Bentuk setiap malaikat pun berbeda­-beda. Al-Quran menegaskan, mereka memiliki sayap. Allah berfirman, "Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utus­an-utusan (untuk mengurus berbagai hal) yang memiliki sayap: ada yang punya dua, tiga, dan empat. Allah menambah­kan ciptaan-Nya sesuatu yang Dia kehen­daki. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS Fathir: 1).

Ada malaikat yang memiliki dua sayap, ada pula yang memiliki tiga, em­pat, dan seterusnya. Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan, Rasulullah SAW melihat Jibril dalam bentuk aslinya. la memiliki enam ratus sayap.

Dalam Tafsir-nya, lmam Ar-Razi me­nyebutkan penafsiran lain ayat surah Fa­thir tersebut. "Sayap malaikat adalah gambaran arah. Maknanya, tak satu pun malaikat yang lebih tinggi dari Allah. Segala sesuatu berada di bawah ke­kuasaan dan nikmat-Nya. Para malaikat selalu menghadap kepada Allah dan mengambil nikmat dari-Nya. Lalu mereka memberikan nikmat tersebut kepada makhluk yang ada di bawah mereka. Itu semua dilakukan atas izin dan kuasa Allah. Dalam AI-Ouran, Allah berfirman, 'Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.' (OS Asy-Syu'ara: 194).

Allah SWT juga berfirman, 'Ucapan­nya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajar­kan kepadanya (Jibril) yang sangat kuat.' (QS An-Najm: 4-5).

Dalam ayat lain, Dia berfirman, `Dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia).' (QS An-Nazi'at: 5).

Di antara para malaikat, ada yang menyampaikan kebaikan dengan peran­tara, ada pula yang menyampaikannya tanpa perantara. Malaikat yang me­nyampaikan kebaikan dengan perantara memiliki tiga sayap, ada pula yang memiliki empat sayap atau lebih."

Sebuah hadits lainnya mengisahkan hal terkait dengan itu. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda, "Allah memiliki malaikat yang mulia dan selalu berkeliling. Me­reka akan mengikuti majelis-majelis dzi­kir. Jika menemukan satu majelis yang di dalamnya terdapat dzikir, para ma­laikat akan ikut duduk bersama orang yang hadir. Setiap malaikat memiliki sayap hingga memenuhi ruang antara langit dan bumi. Jika mereka berpisah, mereka akan naik kembali ke langit...."


Habib Sholeh Bin Ahmad Bin Salim Al Idrus
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Merobek Kemiskinan


Kemiskinan merupakan sesuatu hal yang riskan bagi kebanyakan orang. Karena kemiskinan membuat sang pemiliknya tidak bisa berbuat banyak dalam melakukan beberapa hal. Misalnya dalam hal pendidikan, banyak orang-orang yang putus sekolah disebabkan oleh biaya yang tidak bisa dijangkau. Begitu juga dalam kesehatan, entah berapa banyak orang yang meninggal akibat gizi buruk dan makin merambahnya busung lapar.

Dalam literatur Islam dikatakan, hampir saja kefakiran mendekati pada kekufuran. Ini jelas, karena si empunya sifat ini bisa saja pindah agama karena tidak kuat dengan penderitaan yang ditanggung serta beban mental dan moral yang dipikulnya.

Dalam tinjauan al-Qur’an, sebagaimana yang telah ditafsirkan oleh Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Wawasan al-Qur’an, sebab-sebab kemiskinan antara lain keengganan mereka untuk berusaha dan bekerja. Karena keengganan mereka inilah mereka hanya mendapatkan sedikit anugerah dari Allah. Padahal Allah telah memberikan banyak anugerah di muka bumi ini dan manusia diperintahkan untuk mencari anugerah itu. 

Sifat miskin yang berasal dari kata bahasa Arab sakana/sukun yang berarti diam, kiranya itu yang membuat orang menjadi miskin karena sikapnya yang selalu berdiam diri dan enggan untuk mencari anugerah yang tersebar di muka bumi ini.

”Tidak ada satu dabbah pun di bumi kecuali Allah yang menjamin rezekinya,” QS. Hud, 6. Ayat ini tepatnya pada kalimat dabbah mengisyaratkan kepada makhluk Tuhan agar selalu berusaha dan bergerak. Karena asal kata dabbah mempunyai arti bergerak. Jadi barang siapa yang bergerak dan mau berusaha maka dia akan mendapatkan anugerah yang telah disebar di muka bumi.

Agar terhindar dari kemiskinan tentunya dibutuhkan solusi yang jitu dan tepat karena ini bukanlah persoalan yang ringan. Tetapi setidaknya masalah ini bisa diminimalisir. Ada tiga pendekatan usaha yang harus dilakukan oleh semua kalangan bukan hanya si miskin saja yang harus merubah nasibnya.

Pertama, kewajiban setiap individu. Bagi si miskin sifat keengganan dan berdiam diri harus dihilangkan agar mereka bisa mendapatkan anugerah Allah. Hanya mengandalkan dari sifat meminta juga kurang baik karena ini akan menimbulkan sifat manja dan malas bekerja.

Kedua, kewajiban orang lain (masyarakat). Mereka yang mempunyai  kelebihan rezeki sudah seharusnya menafkahkan hartanya kepada yang tidak mampu. Berbagi kepada sesama merupakan bentuk solidaritas yang akan membawa perubahan bagi mereka. Bukankah Islam telah mengajarkan untuk mengeluarkan zakat bagi mereka yang mampu?

Ketiga, kewajiban pemerintah. Peran pemerintah juga berpengaruh terhadap kesuksesan pengentasan kemiskinan, salah satu sumber dananya adalah  melalui pajak. Itu bisa diberikan pemerintah kepada orang yang dianggap pantas menerimanya. Atau bisa juga dengan menyediakan lapangan pekerjaan dan pelatihan kerja. Di zaman yang sudah serba maju dan banyak penduduknya, orang-orang yang lemah semakin tertindas karena lapangan pekerjaan yang terbatas dan skil yang kurang memadai.

Jadi, kebersamaan yang dibina dari berbagai kalangan serta keyakinan dan kesungguhan untuk mengentaskan kemiskinan akan terwujud. Si miskin tidak enggan berusaha dan bekerja serta hanya berpangku tangan pada yang kaya dan yang kaya sadar akan kewajibannya untuk memperhatikan yang lemah. Dengan begitu, suatu komunitas yang baik akan terwujud, tanpa harus mengandalkan dan bersikap acuh tak acuh.



Pengirim : Arif Saefuddin
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Populer Sepekan

Tahukah Anda



Barangsiapa mengucapkan Sayyidul Istighfar pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia termasuk penghuni surga.

Dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka dia termasuk penghuni surga.

للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

 
Managed by Remaja Musholla RAPI | Supported by Twitter @mushollarapi | Powered by Blogger