Adv 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
MRO Updates :
MR Online Updates »
Bagikan kepada teman!

Menjadi Bapak Yang Hangat dan Peduli (2)

Sebagai seorang kepala rumah tangga memang sudah seharusnya seorang bapak mengupayakan sebuah kehidupan yang ideal untuk keluarganya. Menjaga agar tungku tetap menyala dan asap dapur selalu membumbung ke angkasa. Lebih-lebih, seorang bapak juga memiliki semacam tanggung jawab untuk menyediakan fasilitas hidup yang nyaman untuk keluarga, perhiasan untuk istri, beaya pendidikan anak dan infestasi saat pensiun di hari tua. Namun hal itu tidak kemudian menjadi sebuah alasan untuk sama sekali mengabaikan masa perkembangan anak.

Banyak penelitian menyebutkan, bahwa seorang anak yang dalam masa perkembangannya, selalu dibimbing oleh bapak yang hangat dan peduli, ketika dewasa akan memiliki kecenderungan untuk menjadi manusia yang mandiri, tegar, ulet, dan dapat mengendalikan gejolak emosionalnya. Dan penelitian itu berlaku kebalikannya bagi anak yang kurang mendapatkan sentuhan dan apresiasi dari bapaknya.

Karena pada saat tertentu kita menjadi kurang peka terhadap kondisi psikologis si Kecil. Misalnya dalam keadaan yang amat lelah sehabis kerja, kita menjadi teramat jengkel pada si Kecil yang mengajak bermain, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan sepele yang mengganggu. Tak jarang, saat itu, justru kita menjadikan si Kecil sebagai obyek kemarahan dan sekaligus pelampiasan dari ketidakpuasan terhadap dunia kerja.

Dalam keadaan seperti itu biasanya interaksi-interaksi sederhana yang dilakukan oleh si Kecil akan kita tanggapi dengan hardikan, begitu pula pertanyaan yang diajukannya, hanya akan kita jawab sekenanya. Bahkan tidak kita hiraukan. Disadari atau tidak hal itu dengan serta-merta akan meruntuhkan rasa percaya diri si Kecil, dengan menganggap setiap tindakannya adalah hal yang tidak berguna. Memang pertanyaan-pertanyaan tersebut boleh jadi sangat remeh bagi kita, namun tidak bagi si Kecil. Ketika kita mengabaikannya, saat itu juga kita telah melewatkan sebuah peluang emas untuk kemajuannya di masa depan.

Maka peran aktif seorang bapak, demi tumbuh kembangnya mental seorang anak, terletak pada kemampuannya membangun hubungan yang hangat dengan si Kecil. Menurut hasil riset terbaru, kedekatan seorang bapak ternyata dapat mempengaruhi perkembangan IQ anak hingga 6-7 di samping itu juga akan meningkatkan motivasi belajar, rasa humor, dan terutama kepercayaan diri. Bahkan dengan meluangkan sebentar dari waktu kita yang sempit, untuk menemani anak bermain akan membawa kenangan manis yang tak terlupakan sampai bertahun-tahun kemudian. Keadaan tersebut akan terekam kuat dalam memorinya sampai ia dewasa. Sehingga kepatuhan yang terbangun bukan semata karena ketakutan, tapi berlandaskan kasih sayang dan sikap hormat yang tulus.

Asumsi bahwa tumbuhkembangnya si Kecil adalah tanggung jawab seorang ibu saja, sangat ditentang oleh banyak pakar psikologi perkembangan anak. Sebagaimana urusan rumahtangga lainnya, mengurus anak seharusnya adalah komitmen bersama antara suami dan istri. Karena anak-anak sama sekali tidak seperti peliharaan yang cukup diberi makan dan kepuasan secara materi belaka. 

Mereka juga membutuhkan suntikan ruhani sebagai bekal kehidupan spiritual di masa-masa mendatang. Sayangnya di negeri ini tidak ada lembaga pendidikan, terutama yang formal, yang secara intensif mempersiapkan anak didiknya untuk menjadi orang tua. Sehingga yang terjadi di banyak keluarga muda sekarang ini adalah ketidakadaanya persiapan matang sebagai orang tua yang baik. Sebab mereka mengambil predikat tersebut secara otomatis. Mengalir apa adanya. Permasalahan ini akan terus berantai, diturunkan pada anak-anak ketika dewasa, yang biasanya akan menjiplak sepenuhnya prilaku orang tua.

Maka mata rantai tersebut harus segera kita putus dengan memberi pengertian sedini mungkin kepada si Kecil, bahwa keberadaan mereka diakui dan pendapat mereka dihargai. Kita yakinkan pada si Kecil bahwa ia, sebagaimana manusia lainnya, layak menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Pertama-tama itu bisa dilakukan dengan cara merubah gaya kepengasuhan dari motherhood yang melulu didominasi oleh hanya ibu seorang, ke model parenthood, atau kepengasuhan bersama yang saling melengkapi antara suami dan istri.



Penulis adalah Asatidz dari Ponpes Langitan
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Menjadi Bapak Yang Hangat dan Peduli (1)

Tujuan dari keseluruhan eksistensi kita adalah membawa anak-anak lahir ke dunia.” (Naguib Mahfudz)



Peran orang tua, terutama bapak, dalam mendidik putra-putrinya telah dimulai bahkan sejak mengumandangkan azan pertama di dekat telinganya, beberapa saat setelah persalinan. Dan, tidak pernah berakhir hingga hembusan napas yang terakhir. Setiap orang tua adalah ro’in atau pemimpin, yang nantinya dimintai pertanggung jawaban atas anak-anaknya. Ibarat kertas yang masih kosong, kita memegang masing-masing sebuah pencil dan step. Buatlah sketsa, berikan warna. Selanjutnya, biarkan dia menyempurnakan gambar dirinya sendiri. Anak sebagaimana orang tuanya adalah juga manusia. Bukan sebuah mesin bergerak yang bisa deprogram dengan menginstall software.



Anak-anak kita barangkali adalah satu-satunya ‘barang’ titipan yang dapat membawa kebahagiaan, keceriaan, rejeki, dan keharmonisan di rumah tangga. Maka tak heran, jika banyak cara ditempuh, medis ataupun nonmedis, oleh sebuah keluarga yang tak kunjung mendapat karunia tersebut. Namun, tak jarang pula ada keluarga yang menyia-nyiakan keberadaan mereka. Merenggut masa kanak-kanak mereka dengan eksploitasi yang tidak manusiawi. Hanya karena alasan sulitnya mencari ekonomi. Bahkan ada yang tega menjual mereka demi keserakahan pribadi.


Pada saat si kecil lahir, dalam keadaan selamat, timbul sebuah perasaan bahagia dan syukur yang meluap-luap. Sehingga hampir setiap saat, kita mendekapnya, sering-sering mengecup keningnya, dan menatapnya dengan pandangan mata yang seolah mengisyaratkan sebuah janji untuk tidak akan pernah berpaling darinya satu menit pun. Namun, ketika si kecil mulai tumbuh, yang sebetulnya semakin membutuhkan kehadiran kita, ia justru semakin sering diabaikan. Bahkan ketika si kecil sudah agak lebih besar perhatian orang tua, terutama dari bapak, akan semakin surut intensitasnya. Berganti kunjungan-kunjungan rutin, di sela-sela kelehalan bekerja, sebagai bentuk formalitas saja.


Pola kehidupan seperti ini, terutama, banyak terjadi di perkotaan yang menuntut biaya hidup relative lebih tinggi. Sementara godaan untuk meniti karier sulit untuk dielakkan, baik oleh suami maupun istri. Sehingga, tak jarang anak-anak justru lebih kenal pembantu atau baby sitter ketimbang ibu dan bapaknya sendiri. Belum lagi ditambah tren perceraian yang belakangan seakan-akan telah menjadi gaya hidup sebagian orang. Lalu, kasus kekerasan dalam rumah tangga yang keberadaannya, oleh pakar sosiolog, dikatakan seperti fenomena gunung es: terlihat kecil di permukaan, tapi besar menjulang di kedalaman. Maka ujungnya anak-anaklah yang menjadi korban. Apalagi tradisi berdiskusi dan mengomunikasikan persoalan keluarga masih teramat lemah di negeri ini.


Namun, bukan berarti hal itu hanya selalu terjadi di perkotaan. Di desa-desa sekalipun, terutama karena minimnya informasi, tak sedikit keluarga yang terkesan tak acuh terhadap masa perkembangan putra-putrinya. Berawal dari sebuah anggapan bahwa anak adalah semata-mata urusan ibu. Sementara ia juga harus telaten mengurus pengeluaran belanja, menyiapkan makanan bergizi untuk keluarga, dan menghadirkan suasana nyaman di rumah. Maka mau tak mau si Kecil harus berbagi kasih sayang dengan prabot rumah tangga. Belum lagi ketika masa panen tiba, tetap istri harus ikut repot. Karena tak mungkin semuanya dapat dikerjakan sendiri oleh suami. Lagi-lagi anak-anaklah yang akan terabaikan.


Ini belum berkaitan dengan porsi pendidikan keagamaan yang seharusnya sudah mereka enyam sejak dini. Karena selama ini kebanyakan orang tua selalu berpikir bahwa belajar itu otomatis terhenti ketika anak keluar dari pintu sekolahan, dan mengaji hanya cukup di surau dan masjid saja. Sementara rumah yang merupakan tempat anak-anak kita menghabiskan sebagian besar waktunya, sama sekali jauh dari unsur-unsur pendidikan. Lebih-lebih ketika bapak dan ibu tidak bisa menjadi suri tauladan.


Penulis adalah Assatidz dari Ponpes Langitan
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Kemenangan Byzantium

Salah satu fakta yang mengejutkan yang merupakan bukti akan keajaiban al-Qur’an dan al-Qur’an merupakan firman Allah SWT salah satunya adalah informasi di dalam al-Qur’an mengenai masa depan, yang diterangkan ada pada ayat pertama hingga ayat ke empat surat Ar-Rum.

Byzantium adalah sebuah kota Yunani kuno, yang menurut legenda, didirikan oleh para warga koloni Yunani dari Megara pada tahun 667 SM dan dinamai menurut nama Raja mereka Byzas atau Byzantas. Nama “Byzantium” merupakan Latinisasi dari nama asli kota tersebut Byzantion. Pada Abad Pertengahan menjadi bernama Konstantinopel. Setelah jatuhnya Konstantinopel ke tangan Kerajaan Ottoman, kota ini selanjutnya dikenal sebagai Istanbul bagi Bangsa Turki Ottoman, namun nama tersebut belum menjadi nama resmi kota ini sampai tahun 1930.

Dimana didalam ayat tersebut menerangkan mengenai Kerajaan Byzantium dimana Kerajaan Byzantium akan mendapatkan kekalahan yang telak, namun kemudian segera mendapatkan kemenangan yang besar.

الم
غُلِبَتِ الرُّومُ
فِي أَدْنَى الأرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ
فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الأمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ

Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.(QS. Surah Ar-Rum : 1-4).

Ayat tersebut terbukti pada tahun 620 M, hampir tujuh tahun setelah kekalahan Kerajaan Kristen Byzantium menghadapi bangsa kafir Persia. Namun berdasarkan ayat tersebut dikatakan bahwa Byzantium akan segera mendapatkan kemenangan. Faktanya, Byzantium yang pada saat itu menderita kekalahan yang besar, sepertinya tidak mungkin hanya untuk bertahan hidup, apalagi mendapatkan kemenangan. Tidak hanya ancaman dari Persia, namun pada saat itu juga terdapat ancaman dari bangsa Avar, Slavs dan Lombard bagi Kerajaan Byzantium. 

Bangsa Avar saat itu telah mencapai dinding Konstantinopel. Raja Byzantium, Heraclius, memerintahkan untuk melebur emas dan perak yang terdapat di gereja, untuk dijadikan uang, yang digunakan dalam melakukan pembiayaan perang. Bahkan patung perunggu-pun dilebur untuk dijadikan uang, namun ternyata hasil dari peleburan tersebut belum mencukupi untuk membiayai perang. 

Banyak gubernur yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintahaan Heraclius, dan pemerintahan Byzantium pada saat itu sudah diujung keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang pada awalnya termasuk di dalam kerajaan Byzantium, telah diserang oleh bangsa kafir Persia.

Pada saat itu, masyarakat yakin bahwa Kerajaa Byzantium akan segera hancur. Namun pada waktu yang genting tersebut, ayat pertama surat ar-Rum turun, dan mengabarkan bahwa Kerajaan Byzantium akan mendapatkan kemenangan besar dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kemenangan ini sepertinya mustahil. Kaum kafir Arab pada saat itu berpikir bahwa kemenangan yang diungkap di dalam surah ar-Rum tersebut tidak akan pernah terjadi. 

Sekitar tujuh tahun sejak turunnya ayat tersebut, yaitu pada bulan Desember 627 M, peperangan besar antara kerajaan Byzantium dan Kerajaan Persia meletus, dan peperangan tersebut terjadi di Nineveh. Dan tanpa terduga dalam peperangan tersebut Kerajaan Byzantium mengalahkan kerajaan Persian. Beberapa bulan setelahnya, Kerajaan Persia membuat perjanjian dengan Kerajaan Byzantium agar bangsa Persia mengembalikan wilayah-wilayah yang telah dikuasainya kepada Kerajaan Byzantium.

Akhirnya, ‘kemenangan dari Bangsa Roma’ yang telah diungkapkan oleh Allah SWT menjadi kenyataan.Keajaaiban lainnya dalam ayat tersebut adalah penjelesan mengenai suatu kawasan yang sebelumnya tidak diketahui oleh siapapun pada saat itu.

Pada ayat ketiga surah ar-Rum, Allah SWT menjelaskan bahwa Bangsa Roma akan dikalahkan di dataran terendah yang ada di permukaan bumi. Ini menjelaskan, “Adna al Ard” sebagai ‘tempat yang terdekat’ dalam banyak terjemahan. Namun, hal itu tidaklah benar, dan bukan arti harfiah dari pernyataan sebenarnya, namun merupakan interpretasi gambaran. Kata ‘Adna’ (أَدْنَى) diambil dari kata “deni”, yang artinya ‘rendah’ dan ‘ard’, yang berarti ‘bumi’ Maka “Adna al Ard” berarti “tempat terendah yang ada di permukaan Bumi.”

Hal yang menarik bahwa, kawasan penting ketika Kerajaan Byzantium dikalahkan oleh Kerajaan Persian di dalam peperangan, yang menyebabkan Kerajaan Byzantium kehilangan Yerusalem, telah terjadi di tempat paling rendah di permukaan bumi. Kawasan yang dimaksudkan adalah lembah Laut mati, yang merupakan daerah persimpangan antara kawasan milik Syria, Palestina dan Jordan. “Laut Mati”, terletak pada ketinggian 395 meter diatas permukaan laut. Oleh karena itu, lembah Laut Mati adalah kawasan terendah dipermukaan bumi.

Maka, bangsa Byzantium dikalahkan oleh bangsa Persia di daerah paling rendah di permukaan bumi.

Hal yang paling mengagumkan adalah kenyataan bahwa ketinggian Laut Mati hanya dapat diukur dengan teknik pengukuran modern. Sebelum itu, merupakan hal yang tidak mungkin bagi siapapun mengetahui bahwa Laut Mati merupakan kawasan terendah yanga ada permukaan bumi. Salah satu bukti bahwa al-Qur’an merupakan wahyu Allah SWT, dan tiada tuhan selain Dia.


Al Sukmana
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Populer Sepekan

 
Managed by Remaja Musholla RAPI | Supported by Twitter @mushollarapi | Powered by Blogger