Adv 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
MRO Updates :
MR Online Updates »
Bagikan kepada teman!

Cara Memotong Kuku


Diawali dari tangan kanan kemudian tangan kiri kemudian kaki kanan dan di akhiri kaki kiri. 

Namun menurut Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya' berkata “sebaiknya di awali dari jari telunjuk kemudian jari tengah, jari manis, jari kelingking, dan diakhiri dengan ibu jari”

 أما تقليم الاظفار فمجمع علي انه سنة: وسواء فيه الرجل والمرأة واليدان والرجلان: ويستحب ان يبدأ باليد اليمني ثم اليسرى ثم الرجل اليمني ثم اليسرى قال الغزالي في الاحياء يبدأ بمسبحة اليمني ثم الوسطي ثم البصر ثم خنصر اليسرى إلى ابهامها ثم ابهام اليمنى وذكر فيه حديثا وكلاما في حكمته………….

 ثم معنى هذا الحديث اتهم لا يؤخرون فعل هذه الاشياء عن وقتها فان اخروها فلا يؤخرونها اكثر من اربعين يوما وليس معناه الاذن في التأخير اربعين مطلقا
 
Sedangkan masalah memotong kuku disepakati oleh Ulama hukumnya sunnah bagi pria, wanita, kuku kedua tangan atau pun kaki. 

Disunnahkan cara memotongnya di awali dari tangan kanan kemudian tangan kiri kemudian kaki kanan dan di akhiri kaki kiri. Namun menurut Imam Al Ghozali dalam kitab Ihya' berkata “sebaiknya di awali dari jari telunjuk kemudian jari tengah, jari manis, jari kelingking dan di akhiri dengan ibu jari”. 

Dalam kitab tersebut beliau menuturkan hadits dan hikmah memotong kuku dengan praktek yang beliau tuturkan………………………dan seterusnya.

 عن أنس رضى الله عنه قال وقت لنا في قص الشارب وتقليم الاظفار ونتف الابط وحلق العانة ان لا نترك اكثر من اربعين ليلة رواه مسلم
 
Kemudian terdapat hadits dari sahabat Anas RA, “kami memberi batas waktu dalam mencukur kumis, memotong, membersihkan bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan agar tidak ditinggalkan lebih dari batas waktu 40 malam” (HR. Muslim).

Artinya para sahabat dalam praktik membersihkan diri tadi tidak sampai mengakhirkan hingga batas akhir 40 hari, andaikan mereka mengakhirkan tidak pernah lewat hingga sampai masa 40 hari. Bukan maksudnya membersihkannya di izinkan 40 hari sekali, tetapi setiap saat terlihat panjang meskipun belum sampai 40 hari sunah untuk di potong/dicukur.



Al Majmu’ Alaa Syarh Al Muhadzzab I/287
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Hukum Melafalkan Niat

Tujuan dari talafudz binniyah menurut kitab-kitab fiqh ahlusunnah adalah :

1. Liyusaa’idallis aanul qalbu (“ Agar lidah menolong hati”)
2. Agar menjauhkan dari was-was
3. Keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya


Ayat – ayat Al-qur’an Dasar Talaffudz binniyah (melafadzkan niat) adalah sebagai berikut:
 
1. Tidaklah seseorang itu mengucapkan suatu perkataan melainkan disisinya ada malaikat pencatat amal kebaikan dan amal kejelekan (Al-qaf : 18).
 
Dengan demikian melafadzkan niat dengan lisan akan dicatat oleh malaikat sebagai amal kebaikan.

2. Kepada Allah jualah naiknya kalimat yang baik (Al-fathir : 10).

Masudnya segala perkataan hamba Allah yang baik akan diterima oleh Allah (Allah akan menerima dan meridhoi amalan tersebut) termasuk ucapan lafadz niat melakukan amal shalih (niat shalat, haji, wudhu, puasa dsb).

Hadits dasar - dasar Talaffudz binniyah (melafadzkan niat) adalah sebagai berikut:

1. Diriwayatkan dari Abu bakar Al-Muzani dari Anas Ra. Beliau berkata :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلّّمَ
يَقُوْلُ لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّاً
“Aku pernah mendengar rasulullah Saw. Melakukan talbiyah haji dan umrah bersama-sama sambil mengucapkan : “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk melaksanakan haji dan umrah”(Hadith riwayat Muslim – Syarah Muslim Juz VIII, hal 216)).

Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah Saw. Mengucapkan niat atau talafudz binniyah diwaktu beliau melakukan haji dan umrah.

Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Tuhfah, bahawa Usolli ini diqiyaskan kepada haji. Qiyas adalah salah satu sumber hukum agama.

2. Hadits Riwayat Bukhari dari Umar ra. Bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda ketika tengah berada di wadi aqiq :

”Shalatlah engkau di lembah yang penuh berkah ini dan ucapkanlah “sengaja aku umrah didalam haji”. (Hadith Sahih riwayat Imam-Bukhari, Sahih Bukhari I hal. 189 – Fathul Bari Juz IV hal 135)

Semua ini jelas menunjukan lafadz niat. Dan Hukum sebagaimana dia tetap dengan nash juga bias tetap dengan qiyas.

3. Diriwayatkan dari aisyah ummul mukminin Rha. Beliau berkata :

“Pada suatu hari Rasulullah Saw. Berkata kepadaku : “Wahai aisyah, apakah ada sesuatu yang dapat dimakan? Aisyah Rha. Menjawab: “Wahai Rasulullah, tidak ada pada kami sesuatu pun”. Mendengar itu rasulullah Saw. Bersabda : “Kalau begitu hari ini aku puasa”. (HR. Muslim).

Hadits ini mununjukan bahwa Rasulullah Saw. Mengucapkan niat atau talafudz bin niyyah di ketika Beliau hendak berpuasa sunnat.

4. Diriwayatkan dari Jabir, beliau berkata :

“Aku pernah shalat idul adha bersama Rasulullah Saw., maka ketika beliau hendak pulang dibawakanlah beliau seekor kambing lalu beliau menyembelihnya sambil berkata: “Dengan nama Allah, Allah maha besar, Ya Allah, inilah kurban dariku dan dari orang-orang yang tidak sempat berkurban diantara ummatku” (HR Ahmad, Abu dawud dan turmudzi).

Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah mengucapkan niat dengan lisan atau talafudz binniyah diketika beliau menyembelih qurban.
 
Di dalam sholat, melafalkan niat (Usholli) sebelum takbir dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Melafazdkan Niat dengan lisan (Sebelum Takbir/ sebelum shalat) adalah sunnah (tidak wajib) menurut madzab syafi'i, hambali dan hanafi.
b. Menurut pengikut mazhab Imam Malik (Malikiyah) bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbiratul ihram tidak disyari’atkan kecuali bagi orang yang terkena penyakit was-was (peragu terhadap niatnya sendiri).
c. Niat (dalam hati bersamaan dengan takiratul ula) adalah wajib.



http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/433265010029646/ oleh Ust. Radhin Al Maujudy
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Syair: Tawon dan Lebah


Jangan ukur perbuatan orang suci dengan dirimu! Sebab walaupun cara menulis kata "sher" (singa) dan "shir" (susu) mirip, keduanya berbeda.

Apabila cara memandangmu demikian, maka seluruh dunia menjadi tidak berarti; memang jarang orang patut disebut hamba Allah yang sejati.

Mereka mengaku sama dengan nabi-nabi; mereka kira para aulia seperti diri mereka juga.

"Lihat!" kata mereka, "Kami adalah manusia, mereka adalah manusia. Baik kami ataupun mereka sama-sama terikat pada tidur dan makan."

Dalam kebutaan, mereka tidak tahu bahwa antara keduanya terbentang perbedaan yang besar tidak terkira.

Tawon dan lebah memang makan dan minum dari sumber yang sama; namun yang satu hanya menghasilkan sengat yang tajam, sedang yang lain membuahkan madu yang lezat.

Semua jenis rusa sama makan rumput dan minum air; namun rusa yang satu hanya melahirkan kotoran, sedangkan rusa yang lain membuahkan wangi kesturi.

Tumbuhan jenis buluh minum air dari sumber air yang sama; namun batang bambu tidak mengandung apa-apa, sedangkan batang tebu berisi gula.

Perhatikan ratusan ribu hal seperti itu dan lihat betapa antara keduanya terdapat jarak sejauh tujuh puluh tahun perjalanan.

Yang satu makan sesuatu untuk menghasilkan kotoran; yang lain makan dan menjadi cahaya Tuhan.

Yang satu ini makan dan darinya tidak lahir apa-apa kecuali kebakhilan dan kecemburuan; yang lain juga makan, namun dari dirinya tidak terbit apa pun selain cinta kepada Tuhan.

Yang satu lahan subur dan yang lain tanah payau dan buruk; yang satu seorang malaikat molek dan yang lain setan dan serigala liar.

Tidak dapat dibantah keduanya serupa secara lahir; air yang pahit dan air yang manis juga sama beningnya

Siapa yang bisa membedakan keduanya selain dia yang memiliki cita rasa rohani? Cari orang seperti itu: dialah yang tahu membedakan air yang manis dan air yang asin.

Orang yang cenderung menyamakan sihir dan mukjizat nabi, telah berkhayal dan mengira bahwa keduanya sama-sama tipu daya.

Pada zaman Nabi Musa, dengan tujuan menentang kenabiannya, tukang sihir memakai tongkat seperti Nabi Musa.

Namun, tongkat tukang sihir dan tongkat Musa sangat berbeda, sebab antara perbuatan sihir dan tindakan mukjizat terbentang jurang yang sangat lebar.

Perbuatan tukang sihir dilaknat oleh Tuhan, yang lain menerima pahala berupa kasih sayang-Nya.

Orang-orang kafir yang bertabiat kera sering menyamakan dirinya dengan para nabi dan aulia; sifat semacam ini merupakan penyakit yang bersarang dalam diri binatang.

Apa saja yang dilakukan orang, setiap kali akan ditiru oleh seekor kera apabila ia melihat orang melakukannya.

Dia mengira, "Aku meniru perbuatannya!" Bagaimana mungkin pandangan yang picik dapat membedakan kedua perbuatan itu?



Syaikh Jalaluddin Rumi
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Populer Sepekan

 
Managed by Remaja Musholla RAPI | Supported by Twitter @mushollarapi | Powered by Blogger