Adv 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
MRO Updates :
MR Online Updates »
Bagikan kepada teman!

Mulianya Ahlaq Rasul SAW

Sebagaimana Rasulullah SAW ada­lah orang yang paling bagus bentuk fisik­nya, beliau juga adalah orang yang paling bagus akhlaqnya. Sesungguhnya Allah menghimpun dalam diri beliau akhlaq-akhlaq terpuji yang tidak terhimpun pada orang lain secara mutlak, dan mengajari­nya etika di dalam kitab-Nya yang mulia dengan seluruh adab yang terbaik.
Allah SWT berfirman, “Jadilah engkau pe­maaf, dan suruhlah orang mengerja­kan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” – QS Al-A’raf: 199.
Rasulullah SAW bersabda, “Tuhanku telah mengajariku adab dengan sebaik-baiknya.” – Az-Zarkasyi berkata, “Makna­nya shahih, tetapi hadits ini tidak datang dari jalur yang shahih. Ibn Al-Jauzi me­nyebutkannya dalam Al-Wahiyat dan ia menilainya dha’if. As-Sakhawi berkata, “Dha’if.” Lihat Faidh al-Qadir (1/255).
Dan beliau bersabda, “Aku diutus un­tuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” – Dikeluarkan oleh Ahmad (2/381), Al-Hakim (2/670), dan Al-Baihaqi (10/191) dari hadits Abu Hurairah RA, dan Al-Haitsami mengisyaratkannya dalam Al-Majma’ (8/573) kepada Al-Bazzar.
Setelah etika-etika ini sempurna me­wujud dalam diri Rasulullah SAW, Allah SWT memujinya, “Dan se­sungguhnya engkau benar-benar ber­budi pekerti yang agung.” – QS Al-Qalam: 4.
Ketika Aisyah RA ditanya ihwal akh­laq Rasulullah SAW, ia menjawab, “Akh­laqnya adalah Al-Qur'an.” – Dikeluarkan oleh Ahmad (6/91), Al-Bukhari dalam Al-Adab (hlm. 308), dan lain-lain dari hadits Aisyah RA, dan Muslim (746) dengan re­daksi, “Sesungguhnya akhlaq Nabiyullah adalah Al-Qur'an.”
Makna yang terkandung dalam ha­dits tersebut, beliau ridha karena ridha-Nya dan ma­rah karena kemarahan-Nya.
Anas RA berkata, “Aku menjadi pe­layan Rasulullah SAW selama sepuluh ta­hun. Selama itu be­liau sama sekali tidak pernah mengata­kan ‘huh’ kepadaku, ti­dak pernah me­ng­a­ta­kan kepada sesuatu yang aku laku­kan, ‘Mengapa kau melaku­kannya?’. Dan tidak pernah mengatakan kepada sesua­tu yang tidak aku perbuat, ‘Kenapa kau ti­dak melakukannya?’.” – Dikeluarkan se­nada oleh Al-Bukhari (5691) dan Muslim (2309).
Tiga Hal yang Dijauhi
Dari Ali RA, ia berkata, “Nabi SAW adalah orang yang selalu gembira, ra­mah, lembut, tidak kasar dan tidak keras, tidak pernah berteriak-teriak dan tidak per­nah berkata-kata keji, tidak suka men­cela dan tidak banyak memuji. Beliau pan­dai melupakan hal-hal yang tidak di­sukainya, tidak pernah membuat putus asa dan tidak pernah putus asa.
Beliau menjauhkan dirinya dari tiga hal: riya’, banyak bicara, dan hal-hal yang bukan urusannya. Dan beliau men­jauh­kan orang-orang dari tiga hal: beliau tidak pernah mencaci seorang pun dan ti­dak mencelanya, tidak mencari-cari aibnya, dan tidak berbicara kecuali ten­tang hal-hal yang beliau harap pahalanya.
Jika bicara, beliau membuat orang-orang yang duduk bersamanya tunduk, seakan-akan ada burung di atas kepala mereka. Jika beliau telah diam, mereka bicara, mereka tidak berebutan bicara di sisinya. Siapa yang bicara di sisinya, me­reka diam mendengarkannya hingga ia selesai. Bicara orang yang terakhir di an­tara mereka adalah bicara orang yang pertama di antara mereka. Beliau ter­tawa pada apa yang mereka tertawakan, dan mengagumi apa yang mereka ka­gumi.
Beliau sabar menghadapi orang asing kendati kasar dalam bicara dan cara me­mintanya, ‘Jika kalian lihat orang yang mem­punyai ke­butuhan meminta hajat­nya, bantulah dia.’
Beliau tidak menerima pujian kecuali dari hal yang setimpal, dan beliau tidak per­nah memotong pembicaraan sese­orang dengan larangan ataupun pergi hingga ia selesai bicara.” – Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam Asy-Syama’il hlm. 291, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (22/155) dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (2/154). Al-Haitsami berkata dalam Al-Majma’ (8/494), “Dalam sanadnya ter­dapat orang yang tidak disebutkan nama­nya.”
Membantu Istri
Diriwayatkan pula, Nabi SAW suka memberi makan unta, menyapu rumah, menambal sandal, dan menjahit pakaian – Dikeluarkan oleh Ahmad (6/241) dan hadits senada oleh Ibn Hibban (5676) dari hadits Aisyah RA. Al-Hafizh Al-Iraqi ber­kata, “Para perawinya (maksudnya pe­rawi Ahmad) adalah perawi-perawi hadits shahih.” LihatTakhrij al-Ihya’ (2/360). Hadits yang semakna terdapat dalam Shahih Al-Bukhari (644) dari ucapan Aisyah RA, “Beliau pernah mengerjakan pekerjaan istrinya.” Maksudnya memban­tu pekerjaan istrinya.
Rasulullah SAW suka memerah susu, makan bersama pembantu, dan menggi­ling tepung bersamanya jika ia telah lelah. Beliau tidak merasa malu me­manggul barang-barang milik beliau dari pasar ke rumah keluarganya.
Beliau menyalami orang kaya mau­pun miskin, selalu memulai salam, dan tidak meremehkan undangan makan yang disampaikan kepada beliau walau­pun itu hanya berupa kurma yang paling jelek.
Beliau adalah orang yang pemurah, lem­but, ramah, bergaul dengan baik, wa­jahnya senantiasa berseri-seri, banyak senyum tanpa tertawa, sedih tetapi tidak sampai murung, rendah hati tapi tidak sam­pai menghinakan diri, pemurah tapi tidak sampai boros, lembut hati, pengasih terhadap setiap muslim, sama sekali tidak bersendawa karena kenyang, dan tidak pernah mengulurkan tangannya kepada keserakahan – Disebutkan oleh Ibn Qay­yim Al-Jauziyah dalam Madarij as-Salikin (2/328), dan ia berkata, “Dan dalam Jami’ at-Turmudzi….” Kemudian ia mencan­tum­kan hadits Salamah bin Al-Akwa’ RA dan menggabungkan hadits-hadits lain bersamanya, di antaranya yang terdapat dalam hadits ini.
Semoga shalawat dan salam Allah ter­curah atas beliau dan atas keluarga ser­ta para sahabat beliau.

Habib Zain Bin Sumaith
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Akibat Mengambil Uang Ibu Rp 150

Pada akhir tahun 2003, istri saya selama 11 malam tidak bisa tidur. Saya sudah berusaha membantu agar istri saya bisa tidur, dengan membelai, diusap-usap, masih susah tidur juga. Sungguh cobaan yang sangat berat. Akhirnya saya membawa istri saya ke RS Citra Insani yang kebetulan dekat dengan rumah saya. Sudah 3 hari diperiksa tapi dokter tidak menemukan penyakit istri saya. 



Kemudian saya pindahkan istri saya ke RS Azra, Bogor. Selama berada di RS Azra, istri saya badannya panas dan selalu kehausan. Setelah dirawat 3 bulan di RS Azra, penyakit istri saya belum juga diketahui penyakitnya.



Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke RS Harapan Mereka di Jakarta dan langsung di rawat di ruang ICU. Satu malam berada di ruang ICU pada waktu itu senilai Rp 2,5 juta. Badan istri saya maaf- tidak memakai sehelai pakaian pun. Dengan ditutupi kain, badan istri saya penuh dengan kabel yang disambungkan ke monitor untuk mengetahui keadaan istri saya. Selama 3 minggu penyakit istri saya belum bisa teridentifikasi, tidak diketahui penyakit apa sebenarnya.



Kemudian pada minggu ke-tiga, seorang dokter yang menangani istri saya menemui saya dan bertanya,



Pak Jamil, kami minta izin kepada pak Jamil untuk mengganti obat istri bapak.



Dok, kenapa hari ini dokter minta izin kepada saya, padahal setiap hari saya memang gonta-ganti mencari obat untuk istri saya, lalu kenapa hari ini dokter minta izin ?



Ini beda pak Jamil. Obatnya lebih mahal dan obat ini nantinya disuntikkan ke istri bapak.



Berapa harganya dok?



Obat untuk satu kali suntik 12 juta pak.



Satu hari berapa kali suntik dok?



Sehari 3 kali suntik.



Berarti sehari 36 juta dok?



Iya pak Jamil.



Dok, 36 juta bagi saya itu besar sedangkan tabungan saya sekarang hampir habis untuk menyembuhkan istri saya. Tolong dok, periksa istri saya sekali lagi. Tolong temukan penyakit istri saya dok.



Pak Jamil, kami juga sudah berusaha namun kami belum menemukan penyakit istri bapak. Kami sudah mendatangkan perlengkapan dari RS Cipto dan banyak laboratorium namun penyakit istri bapak tidak ketahuan.



Tolong dok., coba dokter periksa sekali lagi. Dokter yang memeriksa dan saya akan berdoa kepada Rabb saya. Tolong dok dicari



Pak Jamil, janji ya kalau setelah pemeriksaan ini kami tidak juga menemukan penyakit istri bapak, maka dengan terpaksa kami akan mengganti obatnya. Kemudian dokter memeriksa lagi.



Iya dok.



Setelah itu saya pergi ke mushola untuk shalat dhuha dua rakaat. Selesai shalat dhuha, saya berdoa dengan menengadahkan tangan memohon kepada Allah, -setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Rasululloh,



Ya Allah, ya Tuhanku.., gerangan maksiat apa yang aku lakukan. Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga engkau menguji aku dengan penyakit istriku yang tak kunjung sembuh. Ya Allah, aku sudah lelah. Tunjukkanlah kepadaku ya Allah, gerangan energi negatif apakah yang aku lakukan sehingga istriku sakit tak kunjung sembuh ? sembuhkanlah istriku ya Allah. Bagimu amat mudah menyembuhkan penyakit istriku semudah Engkau mengatur Milyaran planet di muka bumi ini ya Allah.



Kemudian secara tiba-tiba ketika saya berdoa, Ya Allah, gerangan maksiat apa yang pernah aku lakukan? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga aku diuji dengan penyakit istriku tak kunjung sembuh? saya teringat kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu, yaitu ketika saya mengambil uang ibu sebanyak Rp150,-.



Dulu, ketika kelas 6 SD, SPP saya menunggak 3 bulan. Pada waktu itu SPP bulanannya adalah Rp 25,. Setiap pagi wali kelas memanggil dan menanyakan saya, JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ? Malu saya. Dan ketika waktu istrirahat saya pulang dari sekolah, saya menemukan ada uang Rp150, di bawah bantal ibu saya. Saya mengambilnya. Rp75,- untuk membayar SPP dan Rp75,- saya gunakan untuk jajan.



Saya kemudian bertanya, kenapa ketika berdoa, Ya Allah, gerangan maksiat apa? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga penyakit istriku tak kunjung sembuh? saya diingatkan dengan kejadian kelas 6 SD dulu ketika saya mengambil uang ibu. Padahal saya hampir tidak lagi mengingatnya ??. Maka saya berkesimpulan mungkin ini petunjuk dari Allah. Mungkin inilah yang menyebabkan istri saya sakit tak kunjung sembuh dan tabungan saya hampir habis. Setelah itu saya menelpon ibu saya,



Assalamualaikum Ma…”



Waalaikumus salam Mil. Jawab ibu saya.



Bagaimana kabarnya Ma ?



Ibu baik-baik saja Mil.



Trus, bagaimana kabarnya anak-anak Ma ?



Mil, mama jauh-jauh dari Lampung ke Bogor untuk menjaga anak-anakmu. Sudah kamu tidak usah memikirkan anak-anakmu, kamu cukup memikirkan istrimu saja. Bagaimana kabar istrimu Mil, bagaimana kabar Ria nak ? dengan suara terbata-bata dan menahan sesenggukan isak tangisnya-.



Belum sembuh Ma.



Yang sabar ya Mil.



Setelah lama berbincang sana-sini dengan menyeka butiran air mata yang keluar-, saya bertanya, Ma, Mama masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ?



Yang mana Mil ?



Kejadian ketika Mama kehilangan uang Rp150,- yang tersimpan di bawah bantal ?



Kemudian di balik ujung telephon yang nun jauh di sana, Mama berteriak, (ini yang membuat bulu roma saya merinding setiap kali mengingatnya)



Mil, sampai Mama meninggal, Mama tidak akan melupakannya. (suara mama semakin pilu dan menyayat hati),



Gara-gara uang itu hilang, mama dicaci-maki di depan banyak orang. Gara-gara uang itu hilang mama dihina dan direndahkan di depan banyak orang. Pada waktu itu mama punya hutang sama orang kaya di kampung kita Mil. Uang itu sudah siap dan mama simpan di bawah bantal namun ketika mama pulang, uang itu sudah tidak ada. Mama memberanikan diri mendatangi orang kaya itu, dan memohon maaf karena uang yang sudah mama siapkan hilang. 



Mendengar alasan mama, orang itu merendahkan mama Mil. Orang itu mencaci-maki mama Mil. Orang itu menghina mama Mil, padahal di situ banyak orang. ...rasanya Mil. Mamamu direndahkan di depan banyak orang padahal bapakmu pada waktu itu guru ngaji di kampung kita Mil tetapi mama dihinakan di depan banyak orang. sakit... sakit... sakit... rasanya.



Dengan suara sedu sedan setelah membayangkan dan mendengar penderitaan dan sakit hati yang dialami mama pada waktu itu, saya bertanya, Mama tahu siapa yang mengambil uang itu ?



Tidak tahu MilMama tidak tahu.



Maka dengan mengakui semua kesalahan, saya menjawab dengan suara serak,



Ma, yang mengambil uang itu saya Ma.., maka melalui telphon ini saya memohon keikhlasan Mama. Ma, tolong maafkan Jamil Ma., Jamil berjanji nanti kalau bertemu sama Mama, Jamil akan sungkem sama mama. Maafkan saya Ma, maafkan saya.



Kembali terdengar suara jeritan dari ujung telephon sana,


Astaghfirullahal Azhim.. Astaghfirullahal Azhim.. Astaghfirullahal Azhim..Ya Allah ya Tuhanku, aku maafkan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Maafkanlah dia ya Allah, ridhailah dia ya Rahman, ampunilah dia ya Allah.



Ma, benar mama sudah memaafkan saya ?



Mil, bukan kamu yang harus meminta maaf. Mama yang seharusnya minta maaf sama kamu Mil karena terlalu lama mama memendam dendam ini. Mama tidak tahu kalau yang mengambil uang itu adalah kamu Mil.



Ma, tolong maafkan saya Ma. Maafkan saya Ma?



Mil, sudah lupakan semuanya. Semua kesalahanmu telah saya maafkan, termasuk mengambil uang itu.



Ma, tolong iringi dengan doa untuk istri saya Ma agar cepat sembuh.



Ya Allah, ya Tuhanku.pada hari ini aku telah memaafkan kesalahan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Dan juga semua kesalahan-kesalahannya yang lain. Ya Allah, sembuhkanlah penyakit menantu dan istri putraku ya Allah.



Setelah itu, saya tutup telephon dengan mengucapkan terima kasih kepada mama. Dan itu selesai pada pukul 10.00 wib, dan pada pukul 11.45 wib seorang dokter mendatangi saya sembari berkata,



Selamat pak Jamil. Penyakit istri bapak sudah ketahuan.



Apa dok?



Infeksi prankreas.



Saya terus memeluk dokter tersebut dengan berlinang air mata kebahagiaan, Terima kasih dokter, terima kasih dokter. Terima kasih, terima kasih dok.



Selesai memeluk, dokter itu berkata, Pak Jamil, kalau boleh jujur, sebenarnya pemeriksaan yang kami lakukan sama dengan sebelumnya. Namun pada hari ini terjadi keajaiban, istri bapak terkena infeksi prankreas. Dan kami meminta izin kepada pak Jamil untuk mengoperasi cesar istri bapak terlebih dahulu mengeluarkan janin yang sudah berusia 8 bulan. Setelah itu baru kita operasi agar lebih mudah.



Setelah selesai, dan saya pastikan istri dan anak saya selamat, saya kembali ke Bogor untuk sungkem kepada mama bersimpuh meminta maaf kepadanya, Terima kasih Ma., terima kasih Ma.



Namun., itulah hebatnya seorang ibu. Saya yang bersalah namun justru mama yang meminta maaf. Bukan kamu yang harus meminta maaf Mil, Mama yang seharusnya minta maaf.



Sahabat ... Sungguh benar sabda Rasulullaah shalallaahu alaihi wa sallam :



"Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)



"Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: orang yang berpuasa sampai dia berbuka, seorang penguasa yang adil, dan doa orang yang teraniaya. Doa mereka diangkat Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, 'Demi keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera." (HR. Attirmidzi).



Kisah ini diceritakan oleh Ust. Jamil Azzaini (Motivator dari Kubik Leadership)
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Cara Beristinja' (Bersuci Setelah Buang Air)

Adapun cara beristinja’ adalah de­ngan melaksanakan salah satu dari tiga cara di bawah ini:
1. Beristinja’ dengan menggunakan air dan batu/tissue sekaligus
yaitu de­ngan menggunakan batu/tissue ter­lebih dahulu lalu diikuti dengan air setelahnya. Dan cara ini adalah cara yang afdhal dalam beristinja’.
2. Beristinja’ dengan menggunakan air saja tanpa batu/tissue dan sejenis­nya. 
Dan cara ini lebih baik dari cara yang ketiga berikut ini, karena de­ngan menggunakan air dapat meng­hilangkan benda najis sekaligus be­kasnya.
3. Beristinja’ dengan menggunakan batu/tissue atau sejenisnya tanpa diikuti dengan air. 
Yang dimaksud dengan batu di sini bukan hanya batu dan tissue yang kita ketahui, melainkan benda apa saja yang memenuhi syarat-syarat benda untuk beristinja' di bawah ini:
1. Suatu benda yang suci. 
Maka tidak sah jika beristinja’ dengan sesuatu (batu/tissue dan lain-lain) yang najis.
2. Suatu benda yang padat. 
Maka tidak sah menggunakan sesuatu yang cair selain air seperti dengan mengguna­kan sirup air teh kopi dan lain-lain.
3. Benda tersebut dapat menghilang­kan najis yang keluar dari kemaluan. 
Lain halnya jika menggunakan ben­da yang tidak dapat menghilangkan­nya, karena licin atau tidak dapat me­nyerap, seperti kaca atau permukaan bambu. Maka tidah sah beristinja’ dengan menggunakan benda-benda tersebut.
4. Benda tersebut bukan termasuk yang dihormati dalam agama. 
Hal tersebut bisa dilihat dari segi karena termasuk makanan manusia, seperti roti atau buah, atau termasuk makanan jin, seperti tulang, atau dari segi kita wajib menghormatinya, seperti kertas-kertas yang tertuliskan pada­nya ilmu-ilmu agama Islam, seperti kertas dari buku-buku agama Islam. Maka menggunakan benda-benda tersebut ketika beristinja’ adalah haram dan tidak sah.
Syarat Beristinja’ dengan Batu atau Sejenisnya
Beristinja’ dengan batu/tissue atau sejenisnya tanpa menggunakan air sama sekali, hukumnya boleh, dan di­hukumi sah shalat yang dilakukan se­telahnya dan tidak perlu diqadha’ asal­kan memenuhi syarat-syarat di bawah ini:
1.  Menggunakan tiga batu atau satu batu yang mempunyai tiga sisi. 
Be­gitu pula dengan sejenisnya, seperti tissue, dan lain-lain, harus dengan tiga tissue atau satu tissue dengan tiga sisi, pokoknya yang penting ha­rus dengan tiga usapan walaupun hanya dari satu batu atau satu tissue dan lain-lain. Dan tidak sah istinja’­nya jika dilakukan hanya dengan satu kali usapan, walaupun satu kali usapan tersebut telah menghilang­kan najisnya. Maka harus ditambah dua usapan lagi.
2. Tiga kali usapan tersebut telah meng­hilangkan benda najisnya sekiranya yang tersisa hanya bekasnya yang ti­dak dapat hilang kecuali dengan menggunakan air. 
Jadi di sini disyarat­kan dua hal sekaligus, yaitu harus beristinja’ dengan menggunakan tiga kali usapan dan yang kedua harus hilang benda najisnya dengan tiga kali usapan itu. Maka, jika sudah kita bersihkan dengan tiga kali usapan tetapi benda najisnya masih ada, ha­rus ditambah satu usapan keempat, ke­lima, dan seterusnya, hingga ben­da najisnya tidak tersisa kecuali be­kasnya saja, yang tidak akan hilang kecuali dengan menggunakan air. 
Namun, sunnah jika hilangnya de­ngan usapan dari hitungan genap, maka ditambah satu kali usapan, sehingga jumlah usapannya dengan hitungan ganjil. Misalnya telah bersih dengan usapan keempat, maka di­tambah satu menjadi lima, dan begitu seterus­nya. Begitu pula sebaliknya jika de­ngan hanya satu kali usapan benda najisnya sudah hilang, tetap harus ditambah usapan kedua dan ketiga. Pokoknya paling sedikit dalam ber­istinja’ dengan menggunakan batu atau sejenisnya harus tiga kali usap­an, dan harus hilang najisnya dan ti­dak tersisa kecuali bekasnya saja.
3. Benda najis (berak/kencing) yang ada di sekitar kemaluan belum me­ngering sebagiannya atau semuanya sekiranya tidak dapat lagi dihilang­kan dengan batu atau sejenisnya. 
Jika terjadi demikian, harus beristin­ja’ dengan menggunakan air. Tidak bo­leh dengan menggunakan batu atau sejenisnya, karena tidak ada faedahnya.
4.  Benda najis tersebut (berak/kencing) tidak berpindah dari tempat asalnya keluar (lubang kencing dan anus). 
Jika berpindah dari tempat asalnya keluar (lubang kencing dan anus) ke tempat lain, berak dan kencing yang berpindah dari tempat asalnya itu tidak boleh dihilangkan dengan batu atau sejenisnya, menghilangkannya harus dengan menggunakan air. Wa­­laupun najis tersebut masih ber­ada di sekitar penis dari batang zakar atau masih di sekitar bibir vagina wanita dan di sekitar anus, misalnya, jika kencing tersebut memercik ke kepala zakarnya (penis), tempat per­cikannya tersebut harus menggu­nakan air untuk beristinja’ darinya, ti­dak sah dengan batu atau sejenis­nya. Adapun najis yang masih ber­sambung dengan tempat asalnya tetap boleh menggunakan batu atau sejenisnya.
5. Benda najis tersebut (berak atau ken­cing) tidak terkena suatu benda yang lain dari jenis najis tersebut. 
Lain halnya jika berak atau kencing­nya terkena percikan air, kena debu, pasir, dan lain-lain, tidak boleh ber­istinja dengan menggunakan batu atau sejenisnya, harus mengguna­kan air untuk beristinja darinya.
6.  Najis berak atau kencingnya tidak sampai melewati batas bibir vagina (bagi wanita), baik yang luar maupun yang dalam, dan juga tidak melewati batas penis atau kepala zakar (bagi lelaki) serta tidak melewati batas anus dari dubur keduanya (yaitu tempat yang ber­kerut dari dubur). 
Lain halnya jika najisnya itu telah melewati batas-batas tersebut, harus menggunakan air untuk beristinja’ dari najis yang telah melewati batas tersebut, dan tidak boleh dengan menggunakan batu atau sejenisnya. Adapun yang masih berada dalam batas-batas tersebut boleh beristinja’ dengan meng­gunakan batu atau sejenisnya.
7. Menggunakan batu atau sejenisnya menyeluruh ke semua tempat yang wajib diistinja’ (zakar laki-laki yang terkena najisnya dan antara dua ba­tas vagina perempuan bagian luar ser­ta yang mengerut dari bagian anus keduanya). 
Sedangkan cara paling afdhal untuk melakukan istinja’ dengan menggunakan batu atau se­jenis­nya dari kemaluan laki-laki atau perempuan begitu pula anus kedua­nya dengan cara memulai pengusap­an dari arah kanan lalu diteruskan dengan arah berputar ke arah kiri, yang kedua dimulai dari kiri diterus­kan ke arah kanan juga dengan cara berputar, dan yang ketiga dengan mengusapnya dari arah bawah ke atas melibatkan dua sisi tersebut sekaligus.
8.   Batu atau sejenisnya harus suci. 
Maka tidak sah jika beristinja’ dengan menggunakan batu atau sejenisnya yang najis.


Habib Segaf Bin Hasan Baharun
komentar | | Read More...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Populer Sepekan

 
Managed by Remaja Musholla RAPI | Supported by Twitter @mushollarapi | Powered by Blogger